Muhammad Qodari resmi mengemban tugas tugas sebagai Kepala Badan Komunikasi (Bakom). Pria kelahiran 15 Oktober 1973 di Palembang Sumatera Selatan itu telah resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto pada Senin (27/4/2026) di Istana Negara.
Qodari bukan wajah baru dalam lingkaran kekuasaan sekarang ini, sebelum didapuk menjabat Kepala Bakom ia sudah lebidahulu dipercayakan mengemban tugas sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP).
Baca Juga: Amien Rais Serang Seskab Teddy, Qodari Pasang Badan
Jauh belum masuk istana, Qodari mengukir kariernya sebagai peneliti sekaligus analis politik yang mampu mengangkat namanya, ia mencatat pengalaman yang lumayan panjang di dunia riset.
Qodari sudah terjun sebagai peneliti sejak 1999 ketika bergabung dengan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) setelah menuntaskan studinya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Karienya sebagai peneliti sempat vakum lantaran Qodari memilih melanjutkan studinya di University of Essex, Inggris, pada 2001. Setelah menunaikan studi konsentrasi perilaku politik dalam perspektif psikologi sosial ia kembali ke Tanah Air dan bergabung dengan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) sebagai peneliti.
Dari sini nama Qodari perlahan mulai dikenal luas oleh publik, kariernya sebagai periset dan peneliti melaju mulus nyaris tanpa hambatan hingga dipercaya menjadi Direktur Riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2003.
Dua tahun setelahnya ia kembali dipercaya menjadi Wakil Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia, di tempat baru ini, Qodari hanya bertahan satu tahun dan memilih berkiprah secara mandiri dengan mendirikan Lembaga Survei Indo Barometer yang benar-benar melambungkan namanya karena akurasi hasil penelitian dengan kejadian di lapangan dalam sejumlah peristiwa politik di Tanah Air.
Sukses dengan Indo Barometer, Qodari memutuskan melanjutkan studinya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2007 dan sukses merengkuh gelar doktor.
Polemik Qodari
Sebelum memantapkan hatinya berkiprah di pemerintahan, Qodari memang sudah lama dekat dengan kekuasaan, tidak hanya di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pada rezim sebelumnya, Qodari juga membina hubungan baik dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Penilaian publik akan kedekatan Qodari dengan pemerintahan Presiden Jokowi kala itu bukan tanpa sebab, sejumlah hasil survei yang ia rilis dinilai cenderung menguntungkan pihak Jokowi yang membuat publik menilai Indo Barometer mulai kehilangan independensinya.
Salah satu hasil survei Indo Barometer yang paling bikin geger Indonesia adalah soal kepuasan publik terhadap kinerja Pemerintahan Jokowi. Survei yang dirilis di penghujung masa jabatan Jokowi itu mengklaim mayoritas masyarakat Indonesia sangat puas dengan kinerja Jokowi. Hasil survei ini kemudian menjadi landasan Qodari melempar isu Jokowi tiga periode yang sempat bikin geger beberapa tahun lalu.
Baca Juga: Mengenal Sosok Muhammad Qodari, Kepala Kantor Staf Kepresidenan Indonesia
Di berbagai kesempatan, Qodari bahkan secara terbuka mengatakan dirinya dirinya mendukung Jokowi untuk melanjutkan kepemimpinannya satu periode lagi. Kendati dikritik dari berbagai sisi, namun Qodari keukeh pada pendiriannya.