Industri kecantikan Indonesia terus berkembang dinamis seiring dengan seiring meningkatnya kebutuhan konsumen, hadirnya merek-merek lokal, serta semakin luasnya inovasi produk dan teknologi. Di tengah dinamika tersebut, Cosmobeauté Indonesia yang digagas oleh PT Pamerindo Indonesia hadir sebagai salah satu platform yang turut mewarnai perjalanan industri kecantikan Tanah Air melalui penyelenggaraan pameran bisnis yang tidak hanya mempertemukan pelaku industri dari dalam, melainkan juga dari luar negeri.

Memulai perjalanannya tahun 2006, bisa dikatakan bahwa Cosmobeauté Indonesia menjadi salah satu pelopor pameran business-to-business (B2B) di industri kecantikan Indonesia. Selama hampir dua dekade, Cosmobeauté Indonesia terus beradaptasi dengan perkembangan pasar, sekaligus memperluas perannya dari sekadar ajang pertemuan bisnis menjadi platform pertukaran pengetahuan, pengembangan kompetensi, dan penjajakan peluang kolaborasi lintas negara.

Baca Juga: Cosmobeauté Indonesia 2026 Resmi Digelar, Hadirkan Tren, Inovasi, hingga Pengalaman Baru di Dunia Kecantikan

Deputy Event Director PT Pamerindo Indonesia, Kristi Wulandari, menyampaikan bahwa ia telah terlibat dalam penyelenggaraan Cosmobeauté Indonesia sejak edisi pertamanya pada tahun 2006. Selama itu pula, ia membersamai perjalanan Cosmobeauté Indonesia dan menyaksikan betul bagaimana sebuah pameran ini tak terlepas dari perubahan dan pertumbuhan industri kecantikan nasional.

Ketika pertama kali diselenggarakan pada 2006, jelasnya, pameran kecantikan dengan konsep B2B masih relatif terbatas di Indonesia. Cosmobeauté Indonesia kemudian hadir untuk mempertemukan produsen, distributor, pemasok bahan baku, hingga pelaku usaha yang memiliki kepentingan bisnis di sektor kecantikan.

"Ketika pertama kali kami menyelenggarakan Cosmobeauté Indonesia pada 2006, belum banyak pameran yang secara khusus berfokus pada industri kecantikan dengan konsep B2B. Pada awalnya memang tidak mudah karena kami harus selektif dalam mengajak perusahaan yang memiliki tujuan bisnis jangka panjang," ungkap Kristi dalam wawancara di sela kegiatan Cosmobeauté Indonesia di ICE BSD Tangerang, Jumat (2/10/2026).

Seiring berjalannya waktu, lanjut Kristi, Cosmobeauté Indonesia mulai merasakan pertumbuhan industri kecantikan yang turut mendorong perkembangan pameran. Ia mencatat bahwa penyelenggaraan Cosmobeauté Indonesia secara konsisten mencatatkan pertumbuhan sebelum pandemi Covid-19. Namun, pandemi yang melanda global sempat menghentikan aktivitas pameran selama dua tahun dan mengharuskan penyelenggara menyesuaikan kembali strategi untuk menjangkau peserta.

Menariknya, pandemi Covid-19 justru menjadi salah satu periode yang memperlihatkan besarnya potensi industri kecantikan. Berdasarkan komunikasi yang dilakukan Pamerindo dengan sejumlah pelaku usaha, penjualan beberapa produk kecantikan, khususnya produk jadi, mengalami peningkatan signifikan sekitar 20%–30% selama pandemi dibandingkan periode sebelumnya. Perubahan aktivitas masyarakat yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah turut mendorong perhatian terhadap perawatan diri.

"Saat pandemi 20%-30% penjualan produk kecantikan itu lebih tinggi dibandingkan saat sebelum pandemi karena saat itu orang lebih banyak di rumah, banyak meluangkan waktu untuk skincare-an. Jadi memang periode itu justru bertumbuh," tambah Kristi.

Baca Juga: 5 Tren Kecantikan yang Mendominasi Instagram pada 2026

Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat penyelenggaraan pameran kembali berjalan mudah. Ketika Cosmobeauté Indonesia kembali digelar pada 2022, Pamerindo harus membangun kembali kepercayaan peserta, terutama exhibitor internasional yang sebelumnya menjadi bagian penting dari pameran.

Penyesuaian terhadap regulasi penyelenggaraan acara, biaya partisipasi, serta ketidakpastian perjalanan internasional menjadi sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Pada masa awal kembali beroperasi, jumlah exhibitor internasional sempat mengalami penurunan signifikan, sementara partisipasi perusahaan lokal justru meningkat.

Perubahan tersebut turut memengaruhi strategi penyelenggaraan Cosmobeauté Indonesia. Pamerindo semakin memperkuat keterlibatan pelaku industri lokal, termasuk produsen dan perusahaan manufaktur yang tumbuh di tengah meningkatnya minat terhadap bisnis kecantikan.

Seiring pulihnya aktivitas bisnis dan perjalanan internasional, partisipasi exhibitor mancanegara kembali meningkat. Pada 2025, proporsi peserta internasional telah mencapai sekitar 60% dari keseluruhan exhibitor. Capaian tersebut mencerminkan kembali terbukanya konektivitas bisnis lintas negara sekaligus besarnya perhatian pelaku industri global terhadap pasar Indonesia.

Menjadikan Pameran Sebagai Ekosistem Bisnis

Bagi Kristi, perkembangan Cosmobeauté Indonesia bukan semata-mata diukur dari pertumbuhan jumlah peserta, melainkan juga dari kemampuannya mengikuti kebutuhan industri yang terus berubah. Untuk itu, Cosmobeauté Indonesia terus dikembangkan tidak hanya sekadar pameran, melainkan juga sebagai ekosistem bisnis yang menyeluruh.

Maka dari itu, Cosmobeauté Indonesia 2026 memperluas cakupan industrinya melalui pengembangan delapan segmen, tidak lagi terbatas pada perawatan kulit, perawatan rambut, dan estetika. Sejumlah kategori turut dikembangkan oleh Cosmobeauté Indonesia, meliputi wellness, teknologi kecantikan berbasis kecerdasan buatan (AI), perawatan ibu dan bayi, produk untuk kelompok lanjut usia, parfum, serta produk penunjang kesehatan.

Perluasan ini menjadi bagian dari upaya Pamerindo dalam menangkap peluang bisnis yang muncul seiring berkembangnya konsep kecantikan. Kecantikan kini tidak hanya berkaitan dengan penampilan fisik, tetapi juga semakin bersinggungan dengan kesehatan dan kesejahteraan secara menyeluruh.

Menurut Kristi, perkembangan teknologi estetika, misalnya, membuka peluang bagi pelaku industri untuk menghadirkan inovasi yang semakin beragam. Demikian pula dengan produk wellness yang mencakup suplemen dan berbagai produk penunjang kesehatan.

"Kami ingin Cosmobeauté Indonesia menjadi pelopor dalam memperkenalkan produk-produk baru di industri kecantikan. Karena itu, kami selalu berkoordinasi dan melihat kategori apa yang berpotensi berkembang, baik dari pasar Indonesia maupun tren internasional," pungkas Kristi.

Pendekatan tersebut juga tercermin dalam penyelenggaraan 57 program pendukung Cosmobeauté Indonesia 2026. Beragam kegiatan berupa seminar, konferensi, dan kompetisi dihadirkan untuk melengkapi aktivitas bisnis selama pameran berlangsung di ICE BSD Tangerang pada 1-3 Oktober 2026.

Program-program tersebut, lanjutnya, tidak hanya membahas tren kecantikan, tetapi juga mencakup aspek pengembangan bisnis, regulasi, serta peningkatan keterampilan para profesional. Melalui kompetisi tata rias, misalnya, para peserta memperoleh ruang untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mengembangkan kompetensi di bidangnya.

Materi edukasi juga disesuaikan dengan kebutuhan industri ke depan. Mengingat pameran diselenggarakan pada penghujung tahun, sejumlah seminar dan konferensi diarahkan untuk membahas tren yang berpotensi berkembang pada tahun berikutnya. Dengan demikian, para peserta tidak hanya mendapatkan informasi mengenai kondisi pasar saat ini, tetapi juga wawasan untuk mempersiapkan strategi bisnis selanjutnya.

Upaya tersebut mempertegas peran Cosmobeauté Indonesia sebagai platform yang menghubungkan kebutuhan bisnis dengan pertukaran pengetahuan. Selain mempertemukan penjual dan pembeli, pameran ini juga membuka ruang bagi para pelaku industri untuk memahami perubahan pasar dan mengembangkan jaringan profesional.

Menjembatani Pelaku Industri dan Regulator

Selain pengembangan pasar dan inovasi produk, Pamerindo menilai bahwa kepatuhan terhadap regulasi juga menjadi bagian penting dalam pertumbuhan industri kecantikan. Hal tersebut terutama relevan bagi exhibitor internasional yang ingin memperluas bisnis ke Indonesia, mengingat setiap negara memiliki ketentuan tersendiri terkait peredaran produk kosmetik.

Kristi mengungkapkan, salah satu tantangan yang kerap dihadapi exhibitor internasional adalah memperoleh informasi yang jelas mengenai regulasi di Indonesia, termasuk ketentuan BPOM dan sertifikasi halal.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Pamerindo secara aktif mengadakan kegiatan edukasi melalui webinar dengan melibatkan lembaga dan asosiasi terkait. Salah satunya adalah kegiatan sosialisasi regulasi halal bersama LPPOM MUI yang ditujukan bagi exhibitor internasional.

Melalui kegiatan tersebut, Pamerindo berupaya memberikan pemahaman mengenai prosedur yang harus dipenuhi sekaligus membantu peserta memperoleh informasi langsung dari pihak yang memahami regulasi.

Kristi menilai, edukasi menjadi penting agar ketentuan yang berlaku tidak menimbulkan kesalahpahaman di kalangan pelaku usaha internasional. Di sisi lain, kepatuhan terhadap regulasi juga menjadi bagian dari upaya melindungi konsumen dan menjaga kualitas produk yang beredar di Indonesia.

Bagi Pamerindo, peran tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab penyelenggara dalam membangun ekosistem bisnis yang saling terhubung. Hubungan dengan lembaga pemerintah dan asosiasi industri juga terus dijaga agar informasi mengenai perkembangan regulasi dapat disampaikan secara tepat kepada para peserta.

"Pada dasarnya, setiap regulasi yang ada baik BPOM maupun LPPOM MUI itu bagus untuk memberikan keamanan dan keselamatan bagi konsumen Indonesia. Maka penting untuk para exhibitor internasional untuk mengetahuinya dan kami sebagai organizer berusaha untuk menjembatani kebutuhan tersebut," tegas Kristi. 

Membuka Peluang Bagi Produk Lokal untuk Berkembang

Dalam kesempatan yang sama, Kristi juga menyampaikan dukungan Pamerindo terhadap produk kecantikan lokal. Di tengah dominasi eksibitor internasional, tegasnya, pengembangan industri kecantikan dalam negeri tetap menjadi salah satu perhatian Cosmobeauté Indonesia. Kristi menilai, Indonesia memiliki banyak produk kecantikan lokal yang berpotensi berkembang, tetapi sebagian pelaku usaha, khususnya UMKM, masih menghadapi keterbatasan dalam memperluas pasar.

Salah satu tantangan yang Pamerindo lihat  adalah akses terhadap jaringan bisnis dan kesempatan untuk memperkenalkan produk kepada calon pembeli yang lebih luas. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Pamerindo berupaya mengakomodasi pelaku UMKM melalui pilihan stan berukuran lebih kecil dengan skema harga yang disesuaikan.

Langkah ini diharapkan dapat membuka kesempatan bagi pelaku usaha yang memiliki keterbatasan anggaran untuk berpartisipasi dalam pameran B2B. Dengan demikian, kesempatan memperkenalkan produk kepada calon mitra bisnis tidak hanya terbuka bagi perusahaan besar, tetapi juga bagi usaha yang sedang membangun pasar.

Selain memberikan ruang di dalam negeri, Pamerindo juga memanfaatkan jaringan pameran internasional yang dimilikinya untuk membantu produk lokal menjangkau pasar luar negeri. Melalui jaringan tersebut, perusahaan yang telah siap berekspansi dapat diperkenalkan dengan peluang mengikuti pameran di berbagai negara, seperti Malaysia, Vietnam, Thailand, Filipina, dan Hong Kong.

Salah satu inisiatif yang pernah dilakukan adalah menghadirkan paviliun Indonesia dalam pameran di Filipina yang diikuti sekitar 10 perusahaan lokal. Program tersebut menjadi salah satu bentuk fasilitasi bagi merek dalam negeri yang telah memiliki kesiapan untuk mengembangkan bisnis di pasar internasional.

Meski demikian, Kristi menekankan bahwa ekspansi ke luar negeri membutuhkan kesiapan yang matang. Selain kemampuan memenuhi permintaan pasar, pelaku usaha juga perlu memahami karakteristik konsumen dan regulasi di negara tujuan.

Ia juga mendorong merek lokal untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan karakteristik Indonesia. Kekayaan bahan alami dan tradisi perawatan kecantikan Nusantara dinilai dapat menjadi identitas yang membedakan produk lokal dari merek internasional.

"Produk lokal harus terus berinovasi mengikuti permintaan pasar. Namun, jangan sampai kehilangan karakter Indonesia. Kita memiliki kekayaan bahan dan potensi yang bisa dikembangkan menjadi keunggulan produk," ungkap Kristi.

Menurutnya, tren internasional dapat menjadi referensi bagi produsen lokal untuk mengembangkan produk. Namun, inovasi tersebut tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan pasar yang dituju agar memiliki identitas tersendiri.

Membangun Platform Jangka Panjang Bagi Industri Kecantikan

Memasuki penyelenggaraan ke-19 pada 2026, Cosmobeauté Indonesia terus mengembangkan perannya sebagai wadah pertemuan berbagai pemangku kepentingan industri kecantikan. Perjalanan sejak 2006 hingga saat ini menunjukkan bagaimana pameran tersebut beradaptasi dengan perubahan pasar, mulai dari tantangan awal membangun ekosistem B2B, menghadapi pandemi, hingga memperluas cakupan industri dan jaringan internasional.

Kristi berharap Cosmobeauté Indonesia dapat terus menjadi platform yang mempertemukan produsen, distributor, pemasok, pembeli, serta calon pelaku usaha yang ingin memasuki industri kecantikan. Melalui pertemuan tersebut, diharapkan terbuka lebih banyak peluang kolaborasi dan pengembangan bisnis yang berkelanjutan.

Di samping itu, keberadaan berbagai program edukasi dan fasilitasi bisnis diharapkan dapat membantu pelaku industri memperoleh informasi terkini sekaligus mempersiapkan diri menghadapi perubahan pasar.

"Kami ingin Cosmobeauté Indonesia tetap menjadi wadah bagi industri kecantikan, khususnya B2B, sekaligus menjadi sumber informasi terbaru mengenai perkembangan industri ini. Kami juga berharap semakin banyak produk lokal yang berpartisipasi dan memiliki kesempatan untuk berkembang," tuturnya.

Ke depan, Pamerindo berharap Cosmobeauté Indonesia dapat terus berkontribusi terhadap pertumbuhan industri kecantikan nasional, baik melalui perluasan jaringan bisnis, peningkatan kompetensi pelaku usaha, maupun pembukaan akses pasar internasional bagi produk lokal.

Dengan menggabungkan fungsi pameran, edukasi, dan fasilitasi bisnis, Cosmobeauté Indonesia berupaya mengambil bagian dalam membangun ekosistem industri kecantikan yang semakin terhubung, inovatif, dan memiliki jangkauan pasar yang lebih luas.