Risiko akibat muntah berulang tidak berhenti pada gangguan kadar kalium. Kebiasaan tersebut juga dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan fungsi ginjal, ketidakseimbangan elektrolit dan asam-basa, serta peradangan atau luka pada kerongkongan.
Paparan asam lambung yang berulang juga dapat merusak enamel gigi. Dalam kondisi tertentu, lanjut dr. Yunita, seseorang juga berisiko mengalami tersedak atau aspirasi, yaitu masuknya isi lambung ke saluran pernapasan dan paru-paru.
Dampaknya pun dapat berkaitan dengan kondisi psikologis. Menurut dr. Yunita, perilaku memuntahkan makanan dapat berhubungan dengan kecemasan, depresi, citra tubuh negatif, serta terbentuknya siklus makan dan muntah yang semakin sulit dihentikan.
“Dari sisi psikologis, perilaku ini juga dapat berkaitan dengan kecemasan, depresi, citra tubuh negatif, serta siklus makan dan muntah yang semakin sulit dihentikan,” jelasnya.
Karena itu, dr. Yunita menekankan pentingnya penanganan secara komprehensif bagi individu yang mengalami perilaku tersebut. Konsultasi dengan dokter diperlukan untuk mengevaluasi kondisi fisik dan pola makan, termasuk status hidrasi, kondisi psikologis, kadar elektrolit, fungsi ginjal, serta pemeriksaan lain sesuai kebutuhan.
“Terapi bukan sekadar melarang pasien muntah, tetapi mencari pemicunya, membentuk kembali pola makan yang teratur, serta memperbaiki hubungan dengan makanan dan citra tubuh,” tuturnya.
Terakhir, ia pun mengingatkan bahwa memuntahkan makanan bukanlah jalan pintas untuk menurunkan berat badan.
Pengelolaan berat badan sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, tidur yang cukup, serta pendampingan tenaga kesehatan sesuai kondisi masing-masing.
Baca Juga: Mau Diet Lebih Maksimal? Bobby Ida Sebut 3 Minuman yang Mendukung Pembakaran Lemak