Growthmates, memuntahkan makanan setelah makan, baik yang dilakukan sebagai bagian dari konten mukbang maupun dengan alasan mengontrol berat badan, bukan merupakan metode diet yang sehat. Jika dilakukan berulang, kebiasaan tersebut justru dapat menimbulkan berbagai risiko bagi kesehatan, mulai dari gangguan elektrolit hingga masalah psikologis.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Yunita Aryani, MSi, MH, memaparkan bahwa memuntahkan makanan tidak berarti seluruh makanan yang telah dikonsumsi akan keluar dari tubuh. Proses penyerapan zat gizi bahkan sudah dimulai sejak makanan masuk ke dalam tubuh.
“Proses penyerapan zat gizi bahkan telah mulai berlangsung sejak makanan dikonsumsi. Karena itu, memuntahkan makanan bukan cara yang tepat untuk mencegah kenaikan berat badan,” papar dr. Yunita, sebagaimana Olenka kutip dari laman IPB University, Kamis (1/10/2026).
Jika dilakukan berulang dengan tujuan mengendalikan berat badan, kata dr. Yunita, perilaku tersebut dapat termasuk purging behavior atau perilaku kompensasi yang tidak sehat.
Menurut dr. Yunita, kebiasaan ini dapat membentuk sebuah siklus yang sulit dihentikan, terutama ketika seseorang memiliki kekhawatiran berlebihan terhadap berat badan.
“Kondisi ini dapat membentuk siklus makan berlebihan, munculnya rasa bersalah, ketakutan terhadap kenaikan berat badan, kemudian kembali memuntahkan makanan,” jelasnya.
dr. Yunita melanjutkan, perilaku tersebut juga dapat berkaitan dengan gangguan makan, salah satunya bulimia nervosa. Karena itu, konten mukbang yang menampilkan atau menormalisasi tindakan memuntahkan makanan perlu disikapi secara hati-hati. Kebiasaan tersebut berpotensi ditiru oleh penonton, khususnya remaja maupun individu yang memiliki kekhawatiran terhadap berat badan dan bentuk tubuh.
Dari sisi kesehatan fisik, muntah yang dilakukan berulang kali dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Salah satunya adalah hipokalemia, yakni kondisi ketika kadar kalium dalam darah berada pada tingkat yang terlalu rendah.
dr. Yunita menjelaskan, muntah dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan asam lambung. Kondisi tersebut kemudian memicu mekanisme hormonal untuk mempertahankan cairan dalam tubuh. Peningkatan hormon aldosteron selanjutnya dapat mendorong ginjal membuang lebih banyak kalium melalui urine.
“Hipokalemia dapat menyebabkan lemas, kram otot, konstipasi, kesemutan, jantung berdebar, hingga gangguan irama jantung. Pada kondisi berat, aritmia dapat mengancam nyawa,” ungkapnya.
Baca Juga: Tren Fiber Maxxing Ramai di Media Sosial, Berapa Banyak Serat yang Dibutuhkan Tubuh? Ini Kata Pakar
Risiko akibat muntah berulang tidak berhenti pada gangguan kadar kalium. Kebiasaan tersebut juga dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan fungsi ginjal, ketidakseimbangan elektrolit dan asam-basa, serta peradangan atau luka pada kerongkongan.
Paparan asam lambung yang berulang juga dapat merusak enamel gigi. Dalam kondisi tertentu, lanjut dr. Yunita, seseorang juga berisiko mengalami tersedak atau aspirasi, yaitu masuknya isi lambung ke saluran pernapasan dan paru-paru.
Dampaknya pun dapat berkaitan dengan kondisi psikologis. Menurut dr. Yunita, perilaku memuntahkan makanan dapat berhubungan dengan kecemasan, depresi, citra tubuh negatif, serta terbentuknya siklus makan dan muntah yang semakin sulit dihentikan.
“Dari sisi psikologis, perilaku ini juga dapat berkaitan dengan kecemasan, depresi, citra tubuh negatif, serta siklus makan dan muntah yang semakin sulit dihentikan,” jelasnya.
Karena itu, dr. Yunita menekankan pentingnya penanganan secara komprehensif bagi individu yang mengalami perilaku tersebut. Konsultasi dengan dokter diperlukan untuk mengevaluasi kondisi fisik dan pola makan, termasuk status hidrasi, kondisi psikologis, kadar elektrolit, fungsi ginjal, serta pemeriksaan lain sesuai kebutuhan.
“Terapi bukan sekadar melarang pasien muntah, tetapi mencari pemicunya, membentuk kembali pola makan yang teratur, serta memperbaiki hubungan dengan makanan dan citra tubuh,” tuturnya.
Terakhir, ia pun mengingatkan bahwa memuntahkan makanan bukanlah jalan pintas untuk menurunkan berat badan.
Pengelolaan berat badan sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, tidur yang cukup, serta pendampingan tenaga kesehatan sesuai kondisi masing-masing.
Baca Juga: Mau Diet Lebih Maksimal? Bobby Ida Sebut 3 Minuman yang Mendukung Pembakaran Lemak