Eks Wakil Menteri Ketenagakerjaan sekaligus tersangka kasus dugaan pemerasan pengurusan sertifikat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Noel Ebenezer Gerungan alias Noel baru-baru ini melontarkan pernyataan kontroversial yang menyeret nama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Dimana Noel mengaku Purbaya telah ditarget dan bakal dijebak dalam kasus hukum oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagaimana yang ia alami sekarang ini.
Pernyataan yang disampaikan Noel dalam sidang lanjutan kasus pemerasan sertifikasi K3 di Pengadilan Tipikor Jakarta, pada Senin (26/1/2026) itu langsung menggelinding liar dan menuai beragam tanggapan.
Baca Juga: Purbaya Soal Pernyataan Kontroversial Noel: Dia Terima Duit, Gue Mah Nggak Gaji Gue Gede
Analis komunikasi politik Hendri Satrio turut menyoroti pernyataan itu, menurutnya pernyataan tersebut dikeluarkan Noel di dalam sidang terbuka tersebut semata-mata hanya untuk hanya untuk mencari simpati publik. Hal itu dilakukan lantaran yang bersangkutan kini tengah terhimpit.
"Jadi kalau dalam ilmu komunikasi, itu ada teori situational crisis communication atau SCCT dari Timothy Combs. Seseorang dalam krisis gunakan cara pulihkan kepercayaan publik," katanya, kepada wartawan di Jakarta, Rabu (28/1/2026).
"Nah, Noel lakukan dua, sebut partai K dan ormas lalu ajak Purbaya media darling ikut kasusnya demi simpati publik saja. Supaya majelis hakim ini mengurangi hukumannya," lanjutnya.
Kendati tujuannya mencari simpati publik, namun pernyataan vulgar itu kata Hendri justru menjadi senjata yang berbalik melukai Noel, alih-alih meraup simpati, pernyataan itu dinilai justru semakin menggerus simpati masyarakat sebab di awal-awal ia diciduk KPK, Noel dengan sadar telah mengakui kesalahannya, lantas di persidang ia justru membantah pernyataannya sendiri dengan mengatakan kasusnya settingan, ia hanya dijebak.
"Cara itu tidak menguntungkan Noel karena secara langsung menghapus simpati publik. Dulu dia sudah mengakui kesalahan dan bertanggung jawab, namun mengapa sekarang jadi menembak-nembak ke sana sini," jelasnya.
Selain menarget simpati publik, pernyataan itu lanjut Hendri juga dimaksud untuk mencari perhatian Presiden Prabowo Subianto. Upaya mencari atensi kepala negara memang sudah diusahakan Noel sejak hari pertama ia diringkus KPK, dimana ia meminta
abolisi ke Presiden Prabowo.
"Dia ingin mencari perhatian Pak Prabowo. Kita masih ingat kan, apa yang ditampilkan oleh Noel pada saat dia ditangkap KPK, minta abolisi kepada Prabowo," katanya.
Respons Santai Purbaya
Terpisah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi santai pernyataan tersebut. Dia mengatakan dirinya sama sekali tidak gentar dengan pernyataan itu, pasalnya selama ini ia tidak pernah terlibat dalam kasus apapun, dia mengatakan upahnya sebagai bendahara negara sudah lumayan besar dan dapat menjamin hidupnya sehingga ia sama sekali tak tergiur dengan godaan korupsi atau suap.
"Yang penting gua enggak terima. Gaji gua gede di sini, cukup. Pak Noel terima duit. Gua mah enggak terima. Dijebak gimana?" kata Purbaya.
Purbaya mengaku heran dengan pernyataan itu.
Dia percaya diri, dia tidak bakal tersandung kasus hukum. Dia kembali menegaskan dirinya sama sekali tak pernah uang di luar gajinya sebagai Menteri Keuangan.
Baca Juga: Pajak Kapal Asing Bocor, Purbaya Ancam Hukum Kemenhub
“Saya enggak tahu kenapa Pak Noel ngomong seperti itu. Mungkin dia mungkin sebel sama gua juga, saya enggak tahu. Tapi case seperti di saya, mungkin amat kecil kemungkinan terjadi, kecuali saya mulai terima uang di luar gaji, ya," tuturnya.
Purbaya menegaskan selama diamanatkan menjadi Menteri Keuangan, ia bakal senantiasa menjaga integritasnya, dia mengatakan uang suap dan korupsi adalah belenggu yang membatasi ruang gerak seorang pejabat, Purbaya tak mau terjerumus.
“Begitu saya terima uang, saya akan amat riskan posisinya: enggak bisa gerak ke sana ke sini, pecat orang enggak bisa, geser orang enggak bisa, karena orang akan laporkan bahwa saya terima uang dan akan dibocorkan," ucapnya.
Meski demikian, Purbaya tidak menutup mata akan kemungkinan adanya upaya kriminalisasi atau framing.
“Harusnya kasus seperti Noel... ini mungkin kalau ada yang jebak, taruh uang tiba-tiba di mobil saya, itu mungkin kejadian. Tadi kan harus ada latar belakangnya dari kasus seperti apa. Saya sih rasanya enggak ada urusan," ucapnya.
Ketika ditanyakan apakah ada kaitan antara peringatan Noel dengan reformasi penggabungan institusi pajak dan bea cukai yang sedang digarap Kementerian Keuangan, Purbaya memilih tidak berkomentar panjang.
“Biar aja. Yang penting kan, saya enggak terima uang. Saya bertanggung jawab ke presiden. Yang lainnya, saya enggak peduli,” pungkasnya.