Hubungan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dirumorkan sudah retak sejak beberapa waktu lalu, isu ketidakharmonisan keduanya menggelinding liar dalam satu dua hari ini. Desas desus itu semakin diperkuat setelah mencuatnya wacana yang menyebut Gerindra sedang mengawasi semua gerak gerik Wakil Presiden yang juga putra Jokowi Gibran Rakabuming Raka.
Pihak Gerindra yang juga mewakili Prabowo sudah berulang kali membantah rumor tersebut, tetapi bisik-bisik soal keretakan hubungan kedua kubu justru semakin liar.
Baca Juga: Ladeni Dokter Tifa di Ruang Sidang, Jokowi Bakal Pamer Ijazah Asli SD sampai Sarjana
Menanggapi keretakan tersebut, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan justru berpandangan sebaliknya, ia menilai hubungan kedua kubu tetap terjalin harmonis. Hal ini dapat dilihat dari gestur Prabowo dan Jokowi ketika keduanya sama-sama menghadiri upacara Hari Bhayangkara ke-80 beberapa waktu lalu. Dimana Jokowi datang bersama para presiden terdahulu sebagai tamu kehormatan yang diundang langsung Prabowo.
"Gestur saling hormat dan sikap akrab yang ditunjukkan Prabowo dan Jokowi kemarin adalah bantahan nyata terhadap berbagai spekulasi liar yang menyebut hubungan keduanya retak. Itu pesan politik yang sangat jelas," kata Iwan Setiawan, kepada wartawan Jumat (3/7/2026).
Dalam upacara tersebut, Prabowo dan Jokowi tampak saling memberi hormat sebelum berjabat tangan hangat. Momen itu menjadi perhatian publik karena berbeda dengan interaksi Presiden terhadap tamu undangan lainnya.
Menurutnya, simbol politik seperti itu sering kali memiliki makna yang lebih kuat dibandingkan pernyataan resmi. Belakangan, hubungan Prabowo dan Jokowi menjadi bahan spekulasi setelah Jokowi melakukan safari politik bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ke sejumlah daerah, termasuk Lampung.
Di saat yang sama, menguat pula wacana pasangan Prabowo-Gibran untuk dua periode yang dinilai sebagian kalangan sebagai manuver politik yang terlalu dini.
Namun, dia berpandangan safari politik yang dilakukan Jokowi kecil kemungkinan berlangsung tanpa komunikasi dengan Presiden Prabowo.
"Tidak mungkin seorang mantan presiden yang memiliki kedekatan dengan kepala negara melakukan safari politik tanpa ada komunikasi sebelumnya. Saling hormat kemarin semakin mempertegas hal itu," ujarnya.
Dia menilai, momen Hari Bhayangkara ke-80 juga menjadi ruang komunikasi politik yang efektif untuk meredam berbagai isu mengenai hubungan kedua tokoh nasional tersebut.
Publik dapat menangkap pesan bahwa komunikasi antara Prabowo dan Jokowi tetap terjaga dengan baik, meski dinamika politik terus berkembang.
Baca Juga: Daya Pikat Jokowi Luntur: Muter-Muter di Lampung Tak Pengaruhi Elektoral PSI dan Gibran
"Dalam politik, simbol dan gestur berbicara lebih keras dari sekadar pernyataan. Dan kemarin, Prabowo dan Jokowi sudah menjawabnya dengan sangat jelas," pungkas Iwan.