Loyalis Joko Widodo (Jokowi) Dede Budhyarto kembali mengkritik partai politik serta pendukung Presiden Prabowo Subianto yang acuh tak acuh pada masalah yang sedang menjerat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. 

Menurut eks Komisaris PT Pelni itu, seluruh pendukung Presiden Prabowo berisi orang-orang yang tak beres, makanya Prabowo sampai kalah dua kali lawan Jokowi di pilpres sebelumnya. Kemenangannya di Pilpres 2024 pun disebut karena andil besar Jokowi yang bersedia memasangkan Gibran sebagai Wapres. 

Baca Juga: Kenapa Partai Koalisi Kompak Pasang Badan Buat Prabowo, tapi Ogah Ambil Pusing Bela Gibran?

“Sudah sepantasnya dia kalah dua kali lawan Jokowi. Typical pendukungnya sontoloyo. Untung sebagian besar pindah ke Anies,” kata Dede dilansir Olenka.id Senin (28/9/2026). 

Dede juga secara khusus menyorot pendukung Prabowo yang selama ini bermain dua kaki, mereka kata dia sebelumnya berada di kubu yang berseberangan setelah Prabowo mantap menggandeng Gibran sebagai calon wakil presidennya di Pilpres 2024, setelah kemenangan Prabowo-Gibran mereka justru merapat salah ikut berjuang sejak awal. 

“Setelah menang, balik lagi seolah-olah pendukung garis keras. Lupa diri bagaimana cara memenangkannya. Cuma enak-enakan menikmati hasil setelah kemenangan,” ujarnya.

Pada kesempatan berbeda,  Pengamat politik Adi Prayitno juga turut menyoroti hal ini, secara khusus ia menyinggung sikap partai koalisi  yang sama sekali ogah pasang badan membela Gibran atas gugatan yang dilayangkan Denny Indrayana Cs ke Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyoal pencalonan Gibran yang disinyalir cacat prosedur lantaran Gibran diduga tak punya ijazah SMA. 

Menurut Adi, diamnya partai pendukung pemerintah atas masalah yang dihadapi Gibran adalah hal wajar, bagi Adi tak seluruh partai koalisi selalu harus  pasang badan membela presiden atau wakil presiden, partai koalisi hanya terlihat kompak saat sedang mengikuti satu kontestasi politik, setelah pembagian jatah tuntas, maka seluruh partai kembali ke agendanya masing-masing 

"Koalisi hangat mesra hanya jelang pembentukan kabinet," kata Adi.

Adi mengatakan, kondisi seperti ini semakin dimaklumi lantaran Gibran juga sama sekali tak punya irisan dengan satu pun partai koalisi, dia bukan kader salah satu parpol dari  seluruh partai koalisi. 

"Jadi wajar ketika ada wakil presiden yang tidak ada irisannya dengan salah satu partai politik apa pun secara struktural ataupun secara kader, tidak dibela cukup luar biasa," ujarnya.

Adi melihat partai politik cenderung memandang hubungan koalisi dalam konteks kepentingan politik dan pembagian kekuasaan. Setelah pertarungan politik dimenangkan dan posisi pemerintahan dibagi, kepentingan masing-masing partai menjadi lebih dominan.

"Karena partai politik menganggap koalisi dan hubungan politik hanya sebatas selesai ketika hampir selesai dan memenangkan pertarungan, lalu kemudian sudah didistribusi dan sharing power," jelasnya.

Hal itu, kata Adi, berbeda ketika yang mendapat kritik adalah Presiden Prabowo Subianto sebagai kepala pemerintahan.

Menurutnya, partai-partai yang berada dalam koalisi pemerintahan memiliki kepentingan politik yang lebih langsung untuk memberikan pembelaan terhadap Prabowo ketika kebijakan maupun komunikasi politiknya mendapat sorotan.

"Beda cerita kalau yang dikritik itu Prabowo sebagai RI 1. Maka wajib hukumnya partai koalisi membela," kata Adi.

Ia mencontohkan sejumlah isu yang pernah mendapat sorotan publik, mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa, hingga komunikasi politik Presiden Prabowo. Dalam isu-isu tersebut, kata Adi, sejumlah partai koalisi terlihat memberikan pembelaan.

Baca Juga: Hitung-hitungan Banggar, Pendidikan Gratis yang Dicetus Prabowo Kuras Anggaran hingga Rp302 Triliun

"Sebagai sebuah bukti, ketika Prabowo dikritik soal MBG, soal Koperasi Desa, soal komunikasi politiknya, banyak partai yang pasang badan," tandas Adi.