Growthmates, kondisi ekonomi yang semakin menantang membuat banyak orang perlu mengevaluasi kembali cara mereka mengelola keuangan. Kenaikan biaya hidup, tekanan terhadap daya beli, hingga ketidakpastian pekerjaan menjadi alasan untuk lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Salah satu langkah yang mulai perlu dipertimbangkan adalah melakukan lifestyle downgrade atau menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan finansial saat ini.

Certified Financial Planner sekaligus Founder & CEO ZAP Finance, Prita Hapsari Ghozie, SE, MCom, GCertFP., mengatakan bahwa ketika kondisi ekonomi berubah dan penghasilan mulai tidak menentu, masyarakat perlu kembali memperkuat fondasi keuangan. Salah satunya dengan memastikan arus kas atau cash flow tetap sehat, yakni penghasilan lebih besar daripada pengeluaran.

Dalam sesi podcast Room4Improvement bersama Rory Asyari, Prita membahas kondisi masyarakat yang sebelumnya merasa memiliki kestabilan finansial, tetapi kini mulai menghadapi ketidakpastian ekonomi.Menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan kondisi keuangan menjadi hal penting agar seseorang tetap bisa bertahan.

“Caranya stabilitas itu dibangun dengan yang namanya fondasi finansial. Kamu harus memastikan cash flow itu selalu lebih besar pemasukan daripada pengeluaran,” ungkap Prita, dikutip dari laman Instagram @room.4improvement, Jumat (30/10/2026).

Prita mengakui, dalam kondisi ekonomi saat ini, tidak semua orang memiliki keleluasaan untuk menyisihkan uang sebagai tabungan. Sebagian bahkan harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari karena penghasilan yang terbatas atau mengalami penurunan.

Karena itu, Prita menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu memaksakan diri untuk tetap menabung apabila kondisi keuangan memang belum memungkinkan. Menurutnya, prioritas utama adalah menjaga agar kondisi finansial tidak semakin terbebani oleh utang konsumtif, terutama pinjaman online (pinjol) dan layanan buy now, pay later (paylater).

“So I tell them, yaudah nggak apa-apa, kamu emang sepertinya saving-nya harus nol dulu. Yang penting kamu tidak terjerat pinjol dan pay later,” jelasnya.

Baca Juga: Tips Mengelola Keuangan di Usia 40-an: Lakukan Financial Checklist ala Sequis Ini Yuk!

Selain menghindari utang konsumtif, masyarakat juga perlu mulai mengevaluasi pengeluaran. Prita pun menyarankan, agar setiap orang melihat kembali pos-pos belanja yang sebenarnya bisa dihapus atau diganti dengan alternatif yang lebih hemat.

Besarnya penghematan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi pendapatan masing-masing. Jika penghasilan mengalami penurunan, pengeluaran pun harus ikut disesuaikan agar keseimbangan keuangan tetap terjaga.

“Dari yang kita delete atau kita substitusi, kita tuh bisa hemat berapa persen? Berapa persennya tergantung pemasukannya. Jadi kalau pemasukan kamu berkurangnya 20 persen, kamu wajib berhemat 20 persen,” ungkap Prita.

Lebih lanjut, Prita juga mengingatkan bahwa tantangan mengelola keuangan tidak hanya dialami oleh mereka yang penghasilannya menurun. Orang dengan pendapatan yang relatif sama pun bisa merasakan kondisi keuangan semakin sulit, terutama ketika biaya hidup terus meningkat dan sisa penghasilan semakin sedikit.

Situasi tersebut perlu menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali standar hidup. Ketika pengeluaran sudah tidak lagi sebanding dengan kemampuan finansial, mempertahankan gaya hidup lama justru berisiko membuat kondisi keuangan semakin rentan.

Prita menilai, lifestyle downgrade bukan berarti seseorang harus kehilangan seluruh kenyamanan atau berhenti menikmati hidup. Lebih dari itu, penyesuaian gaya hidup diperlukan agar pengeluaran kembali sesuai dengan kemampuan finansial dan kebutuhan saat ini.

“Pada saat jreng dia sadar, akhirnya dia baru ngerti bahwa, ‘Oh my God, emang ternyata aku harus mendowngrade keuangan aku, kalau enggak aku tidak akan bisa survive’,” tutup Prita.

Baca Juga: Financial Planner Ungkap Siapa Sebenarnya Generasi Sandwich, Ternyata Bukan Hanya Anak Muda