Momen libur semester genap yang jatuh pada bulan Juni hingga Juli ini biasanya menjadi waktu yang paling dinantikan keluarga untuk bersantai. Namun, bagi para orang tua yang mendampingi anak-anak neurodivergent, termasuk anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), ADHD, disleksia, atau gangguan pemrosesan sensorik, masa liburan justru bisa menjadi periode yang penuh tantangan.
Tanpa adanya "jangkar" berupa jadwal terstruktur dari sekolah, anak autistik rentan merasa cemas karena perubahan rutinitas, sementara anak dengan ADHD cenderung kesulitan mengatur energi dan impulsivitasnya. Padahal, data menunjukkan tantangan ini dihadapi oleh jutaan keluarga di Indonesia.
Agar momen liburan kali ini berjalan damai dan penuh makna, yuk contek 6 tips praktis dari Ries Sansani, Occupational Therapist sekaligus Lead Coach di Atelier of Minds, berikut ini:
1. Rancang "Kalender Visual" Liburan Bersama
Jangan menunggu sampai hari libur tiba untuk merencanakan aktivitas. Sebelum hari pertama libur dimulai, ajak anak duduk bersama untuk membuat kalender visual. Kamu bisa memanfaatkan gambar, stiker, atau kode warna yang menarik untuk menggambarkan rencana aktivitas harian mereka.
"Visualisasi jadwal bukan sekadar alat bantu, ini adalah bahasa keamanan bagi otak anak neurodivergent. Ketika anak tahu apa yang akan terjadi, otak tidak perlu bekerja keras untuk 'waspada', sehingga energi bisa dialihkan untuk belajar dan bermain," jelas Ries.
Baca Juga: Libur Sekolah Tiba, Ini 5 Aktivitas Seru untuk Anak di LEGO Playground Grand Indonesia
2. Pertahankan Tiga "Jangkar" Rutinitas Utama
Di tengah fleksibilitas masa liburan, ada tiga hal krusial yang tidak boleh bergeser dan harus tetap konsisten setiap hari, yaitu: waktu bangun tidur, waktu makan, dan waktu tidur malam. Mempertahankan konsistensi tiga jangkar ini, bahkan saat kamu sedang mengajak anak bepergian sekalipun, adalah strategi kunci untuk menjaga kestabilan emosi anak dan mencegah terjadinya meltdown.
3. Siapkan "Peta Panduan" Sebelum Menuju Tempat Baru
Sebelum mengajak anak mengunjungi tempat yang belum pernah mereka datangi sebelumnya—seperti mal baru, taman bermain, atau rumah saudara, berikan gambaran awal (prediktabilitas) secara visual atau verbal.
Kamu bisa memberi tahu mereka, "Setelah makan siang, kita akan ke rumah Tante. Di sana suasananya agak ramai dan ada musiknya. Yuk, kita obrolin apa yang bisa bikin kamu nyaman di sana." Cara ini efektif memangkas kecemasan anak secara drastis.
4. Sediakan "Sudut Tenang" sebagai Zona Pemulihan
Setiap rumah idealnya memiliki satu sudut khusus yang dirancang sebagai zona pemulihan sensorik (sensory break). Ingat ya, tempat ini dibuat bukan sebagai bentuk hukuman (time-out), melainkan sebagai perlindungan yang aman. Kamu bisa melengkapi sudut ini dengan weighted blanket (selimut berbobot), pencahayaan yang redup/lembut, dan noise-cancelling headphone. Di Atelier of Minds, tempat ini disebut 'zona regulasi' di mana anak diberi hak penuh untuk memulihkan emosinya sendiri.
5. Prioritaskan Aktivitas Fisik dan Eksplorasi Sensorik
Alih-alih membiarkan anak menghabiskan waktu liburan di depan layar gadget, prioritaskan aktivitas berbasis gerak yang berfungsi sebagai terapi sensori alami. Kamu bisa mengajak anak bermain tanah liat, memasak menu sederhana bersama, berenang, atau berkebun di halaman rumah. Biarkan anak yang memimpin aktivitas tersebut dan ikuti ritme mereka dengan santai.
6. Pertimbangkan Program Pendampingan Inklusif Terstruktur
Agar momentum perkembangan anak yang sudah dibangun selama masa sekolah tidak hilang begitu saja, mendaftarkan anak ke program pengayaan inklusif bisa menjadi solusi cerdas bagi seluruh anggota keluarga.
Sebagai rekomendasi, kamu bisa melirik program Summer Camp at Atelier of Minds. Sebagai student care dan enrichment center inklusif, mereka merancang program liburan dengan intensionalitas terapeutik yang menggabungkan pendekatan terapi okupasi, stimulasi kognitif, dan pengembangan sosial-emosional dalam ekosistem bermain yang aman dan dipandu oleh tenaga profesional.