Medali perunggu Asian Games Aichi-Nagoya 2026 datang sebagai kado istimewa bagi karateka Tim Indonesia, Leica Al-Humaira Lubis. Bukan hanya karena menjadi medali pertamanya pada debut di Asian Games, tetapi juga karena podium tersebut hadir sepekan setelah ulang tahunnya yang ke-22.
Leica genap berusia 22 tahun pada 15 September lalu. Meski medali itu baru ia raih hampir sepekan kemudian, tepatnya setelah bertanding di Toyohashi Gymnasium, Minggu (20/9/2026), pencapaian tersebut tetap terasa seperti hadiah yang datang di waktu yang tepat.
Bagi atlet asal Sumatera Utara itu, perunggu Asian Games bukan sekadar sekeping medali. Ada perjalanan panjang, latihan yang tak kenal lelah, berbagai pengorbanan serta dukungan keluarga yang terus mengiringinya sejak ia memilih karate sebagai bagian dari hidupnya.
Baca Juga: Soft Tennis Indonesia Raih Medali Perunggu di Ajang Asian Games
“Iya dong,” jawab Leica sambil tertawa ketika ditanya apakah medali tersebut menjadi hadiah ulang tahunnya pada Senin (21/9). Dibalik jawaban singkat itu, terselip rasa syukur atas pencapaian yang berhasil diraihnya pada panggung Asian Games pertamanya.
Setelah menuntaskan pertandingan, Leica pun sudah menyiapkan cara sederhana untuk merayakan pencapaiannya. Ia ingin mengambil waktu untuk dirinya sendiri dengan berjalan-jalan, menikmati kuliner dan tentu saja mencicipi makanan yang selama masa persiapan harus ia tahan.
“Mau jalan-jalan, kulineran. Mau makan tahu susu,” lanjut Leica menambahkan.
Keinginan itu bukan sekadar soal ingin bebas makan setelah pertandingan. Bagi Leica, menikmati makanan favorit juga menjadi semacam self reward setelah berbulan-bulan menjalani disiplin sebagai atlet, termasuk menjaga pola makan demi mencapai kondisi terbaik saat bertanding.
Ada sedikit rasa “balas dendam” yang menyenangkan setelah sekian lama harus menahan berbagai keinginan.
Berdamai dengan Dua Mimpi
Diluar arena karate, Leica juga menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Sumatera Utara (USU). Ia mulai berkuliah pada 2022, dengan pilihan jurusan yang tidak lepas dari keinginannya untuk tetap dapat menjalankan karier sebagai atlet.
Pilihan itu lahir dari sebuah dilema. Leica sebenarnya bercita-cita menjadi dokter dan sempat membayangkan dirinya menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran. Namun, ia menyadari bahwa pendidikan kedokteran membutuhkan komitmen waktu yang besar, begitu juga dengan kariernya sebagai atlet.
“Sebenarnya ambil Fakultas Ilmu Komputer itu supaya bisa kerja secara remote. Biar bisa sambil jadi atlet. Jadi, sambilan kuliahnya juga lebih gampang. Kalau cita-cita aslinya itu pengen jadi dokter, pengen ambil FK (Fakultas Kedokteran). Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya nggak bakal bisa. Pasti sulit kalau menjalankan dua-duanya,” tuturnya.
Pada akhirnya, Leica memilih untuk berdamai dengan keadaan. Ia mencari jalan tengah agar dua hal yang sama-sama penting dalam hidupnya tetap bisa berjalan yaitu pendidikan dan olahraga.
“Jadi akhirnya berdamai sama diri sendiri untuk mencari mana yang secara atletnya bisa jalan, pendidikannya juga bisa jalan,” katanya.
Pilihan tersebut juga mendapat dukungan penuh dari keluarga. Bagi Leica, orang tua bukan hanya tempat untuk pulang, tetapi juga sumber kekuatan yang membuatnya mampu terus menjalani dua dunia sekaligus.
Peraih medali emas nomor kumite +68 kilogram putri pada SEA Games Thailand 2025 itu masih mengingat pesan sederhana dari kedua orang tuanya ketika menghadapi pertandingan Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
“Umi selalu mengingatkan untuk tidak lupa bernapas, terutama ketika menghadapi pertandingan dengan tingkat kecemasan yang tinggi. Kecil, tapi itu penting banget. Kalau Ayah selalu bilang, apa pun hasilnya, Ayah tetap bangga,” ujar Leica.
Pesan-pesan sederhana itu kembali terasa setelah pertandingan berakhir. Leica mengaku langsung berkomunikasi dengan keluarganya dan mendapatkan apresiasi atas perjalanan panjang yang telah ia lalui.
“Terima kasih sudah berjuang hari ini. Terima kasih sudah berjuang berapa tahun terakhir. Terima kasih untuk semua yang sudah adik kasih,” kata Leica mengenang pesan sang ayah.
Dan diatas semuanya, ada satu mimpi besar yang ingin terus dikejarnya, yakni lolos dan membawa pulang medali dari Olimpiade.
“Kalau karate dimainkan di Olimpiade, pasti saya mengejar Olimpiade karena itu mimpi semua atlet. Kalau benar karate nanti dimainkan di Olimpiade 2032, aku akan berjuang untuk bisa sampai kesana. Paling enggak bisa lolos ke Olimpiade dan jadi Olympian,” doanya.