Growthmates, di tengah persaingan industri kopi modern Indonesia yang semakin ketat, membangun bisnis coffee shop tidak cukup hanya dengan menghadirkan produk yang enak atau mengikuti tren yang sedang populer.
Menurut Chief Marketing Officer FORE Coffee, Matthew Ardian, sebuah brand harus memiliki alasan yang kuat mengapa ia hadir dan memberikan dampak bagi konsumennya.
Matthew menilai, salah satu kesalahan terbesar yang kerap dilakukan pelaku bisnis coffee shop adalah membangun brand tanpa memiliki tujuan yang jelas atau purpose.
Baginya, sebelum mendirikan sebuah bisnis, pemilik brand perlu mempertanyakan kembali alasan mengapa bisnis tersebut harus ada.
“Ini buat teman-teman yang saat ini tengah menjalankan bisnis coffee shop. Apa kesalahan terbesar yang sering dilakukan? No purpose. Kenapa harus bikin brand ini? I always do like, tulis di kertas gitu, kenapa brand ini harus ada?,” ungkap Matthew, dalam sebuah video sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram @roryasyari @room.4improvement, Selasa (18/8/2026).
Matthew bahkan menyarankan pelaku bisnis mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu apa yang akan terjadi apabila brand tersebut tiba-tiba tidak ada? Jika tidak ada dampak berarti yang ditinggalkan, menurut Matthew, kemungkinan besar brand tersebut belum memiliki diferensiasi dan tujuan yang cukup kuat.
“Kalau misalnya besok brand ini nggak ada, apa impact-nya buat dunia? Kalau ternyata impact-nya, oh nggak ada, lo replaceable,” katanya.
Bagi Matthew, membangun brand bukan semata-mata tentang menjual produk. Brand harus mampu menciptakan hubungan dengan konsumen sekaligus menghadirkan pengalaman yang membuat mereka merasa dekat dengan produk maupun nilai yang dibawa perusahaan.
Dalam membangun dan mengembangkan brand, konsistensi juga menjadi faktor penting. Tidak hanya dalam komunikasi pemasaran, tetapi juga dalam implementasi di lapangan. Ketika bisnis mulai melakukan ekspansi, narasi yang dibawa brand harus tetap relevan dan tersampaikan secara konsisten kepada konsumen.
“Satu hal yang secara konsisten kita lakukan adalah konsistensi di lapangan. Ekspansi, dan juga gimana caranya kita membawa narasi brand itu dengan tepat. Regenerasi customer juga penting banget,” tutur Matthew.
Menurut Matthew, keberhasilan sebuah brand juga tidak bisa dilepaskan dari kemampuannya melakukan regenerasi konsumen. Brand perlu terus relevan bagi generasi baru tanpa kehilangan identitas yang sudah dibangun.
Matthew juga mengingatkan pelaku industri kopi agar tidak sekadar mengikuti setiap tren yang muncul. Menurut dia, tren memang dapat menjadi alat untuk menarik perhatian, tetapi brand perlu memahami tujuan di balik tren tersebut sebelum mengikutinya.
“Hati-hati ketika kita mengikuti trend, kita nggak tahu trend itu tujuannya dibuat untuk apa,” ujarnya.
Baca Juga: Peran Vidi Aldiano di Balik Menu Terlaris Fore Coffee
Alih-alih hanya menjadi pengikut tren, Matthew justru melihat peluang untuk menciptakan tren sendiri. Dengan begitu, brand dapat menyisipkan edukasi sekaligus memberikan nilai kepada masyarakat melalui aktivitas pemasaran yang dilakukan.
“Bikin trend itu lebih enak, kenapa? Karena kita bisa nyebarin edukasi. Kita bisa kasih value ke manapun, siapapun, tanpa harus jadi arogan,” katanya.
Bagi Matthew, marketing juga harus memiliki tujuan yang jelas. Aktivitas pemasaran bukan sekadar mengejar angka atau menciptakan percakapan sesaat, tetapi harus menjadi bagian dari strategi untuk membangun hubungan jangka panjang antara brand dan konsumen.
“So, it's a goal when you do the marketing,” ucapnya.
Selain strategi bisnis dan pemasaran, Matthew menilai kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam membangun perusahaan. Ia mengatakan, ketika mencari kandidat untuk bergabung dengan FORE Coffee, salah satu nilai utama yang diperhatikan adalah value, terutama integritas.
“For me, I need to hire people with a strong integrity aspect,” tegas Matthew.
Menurutnya, integritas bukan hanya tentang melakukan sesuatu yang benar ketika ada orang lain yang melihat. Justru, integritas terlihat ketika seseorang tetap memilih melakukan hal yang benar meski tidak ada seorang pun yang mengawasi.
“Integrity itu ya, contohnya, doing the right thing, even nobody see,” jelasnya.
Di sisi lain, perjalanan membangun bisnis juga membutuhkan daya tahan yang kuat. Matthew menyebut endurance sebagai salah satu kualitas yang sangat penting bagi seseorang yang ingin bertahan dan berkembang di tengah persaingan.
Ia mengungkapkan bahwa ketika membangun karier dan bisnis, seseorang mungkin akan berhadapan dengan orang lain yang memiliki kemampuan lebih tinggi. Karena itu, kecerdasan saja tidak selalu menjadi faktor penentu keberhasilan.
“Ada satu spirit yang I have so many friends at that time, itu nggak punya spirit yang kayak aku punya. Apa itu? Endurance,” ujar Matthew.
Matthew pun mengatakan endurance atau daya tahan membuat seseorang mampu terus bergerak ketika menghadapi tantangan, persaingan, maupun kegagalan.
“Endurance itu penting sekali. Dan kadang-kadang kalau kita nggak punya endurance itu kali lagi yang kita andalkan. Karena kalau misalnya kita bilang kita punya brain, banyak orang lebih pinter,” pungkasnya.
Baca Juga: Fore Coffee Perkenalkan Empat Brand Ambassador Baru, Wakili Cerita Jutaan Pelanggan