Mantan Anggota Komisi III DPR Gede Pasek Suardika menyentil keras kubu Presiden Prabowo Subianto yang tampak pasif dan terkesan tak mau tahu atas masalah yang sedang menimpa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang sedang menghadapi gugatan ijazah SMA miliknya di Mahkamah Konstitusi (MK). 

Menurut Pasek kubu Prabowo tidak seharusnya berbersikap seperti itu, sebagai partner di pemerintahan kubu Prabowo kata Pasek seharusnya ikut pasang badan membela Gibran, bukan membiarkanmu berjuang sendirian

Baca Juga: Kenapa Anies-Muhaimin, Ganjar-Mahfud Ogah Ikut Gugat Ijazah Gibran?

"Kini setelah Gibran resmi menjadi Wapres lalu diserang balik soal ijazah sampai ke MK, kubu Prabowo terkesan cuek dan tidak mau tahu. Seharusnya tim pemenangan totalitas ikut 'berperang' melawan serangan ini, bukan malah jadi penonton dan membiarkan pencalonan Wapres diobok-obok," ujar Pasek dalam keterangannya dilansir Jumat (25/9/2026).

Lebih lanjut, Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara itu menolak keras wacana ketatanegaraan yang menarasikan bahwa posisi Prabowo akan tetap aman dan bisa mencari pengganti jika MK mengabulkan gugatan diskualifikasi Gibran.

Ia menekankan bahwa konstitusi mengatur pencalonan presiden dan wakil presiden sebagai satu kesatuan paket yang tak terpisahkan.

Menurutnya, mekanisme penggantian wakil presiden dengan menyodorkan dua calon untuk dipilih oleh MPR hanya berlaku apabila wakil presiden petahana meninggal dunia, berhalangan tetap, atau terjerat tindak pidana.

"Logika mengganti Wapres dengan menyiapkan dua calon untuk dipilih di MPR itu hanya berlaku jika wakil presiden menjabat meninggal dunia, sakit permanen, atau melakukan tindak pidana. Jika syarat awal pendaftaran yang bermasalah, ya satu pasangan gugur. Waktu dicoblos juga fotonya berpasangan," urai Pasek.

Dari kacamata politik, Pasek mencium indikasi kuat adanya penghianatan dari internal koalisi pemerintahan. Ia mengibaratkan dinamika saat ini layaknya pihak-pihak yang berebut makanan, namun melupakan proses panjang saat mengumpulkan bahan dan memasak bersama.

Serangan masif terhadap posisi Gibran yang minim pembelaan dinilai sebagai bagian dari manuver yang sengaja dibiarkan oleh elite ambisius pengincar kursi RI-2. Kecurigaan tersebut, menurut Pasek, diperkuat dengan mulai maraknya manuver "tebar pesona" yang dilakukan oleh sejumlah tokoh potensial ke ruang publik.

Baca Juga: Makin Terang Benderang! Partai Ini Ikut Gugat Gibran ke MK, Minta Wapres Dicopot dan Dipilih Pengganti

"Kalau mau dilihat secara kasatmata, sangat terlihat dari kutub mana permainan ini dijalankan. Urut saja latar belakang para pentolannya yang bergerak, publik akan tahu dari mana sebenarnya pemegang remote permainannya dan bagaimana guratan lukisan skenario itu diawali. Kalau saya sih hafal," pungkas Pasek.