Nama H&M, Hennes & Mauritz, nyaris mustahil dipisahkan dari lanskap fast fashion global. Berbasis di Stockholm, Swedia, H&M telah menjelma menjadi salah satu pemain terbesar dalam industri fashion mass market dunia.
Keunggulan utamanya terletak pada kemampuan menghadirkan tren runway ke rak toko dengan cepat, dalam skala besar, dan dengan harga yang relatif terjangkau.
Hingga kini, H&M Group mengelola ribuan toko fisik dan platform daring di puluhan negara. Jangkauan global ini menempatkan H&M sebagai salah satu aktor kunci yang membentuk cara berpakaian masyarakat urban modern menjadi praktis, trend-driven, dan terjangkau.
Baca Juga: Mengenal Sosok Tadashi Yanai, Pendiri Brand UNIQLO
Namun, popularitas tersebut tidak terbangun dalam semalam. Selama lebih dari tujuh dekade, H&M tumbuh melalui kombinasi strategi ritel berbasis volume, kontrol biaya yang ketat, serta ekspansi global yang dilakukan secara bertahap namun konsisten. Kecepatan produksi dan distribusi menjadi fondasi utama yang menopang pertumbuhan perusahaan sejak awal berdiri.
Awal Berdiri dan Latar Belakang Perusahaan
H&M didirikan pada 1947 oleh Erling Persson di Västerås, sebuah kota kecil di Swedia, dengan nama awal Hennes, yang berarti “milik para perempuan”. Sejak awal, fokus bisnisnya adalah pakaian wanita siap pakai.
Inspirasi Persson muncul setelah ia melakukan perjalanan ke Amerika Serikat dan mengamati model ritel yang menjual produk dalam jumlah besar dengan harga rendah—sebuah pendekatan yang kala itu masih jarang diterapkan di Eropa pasca-Perang Dunia II.
Ia melihat celah pasar yang belum tergarap, yakni perempuan kelas menengah yang ingin tampil modis tanpa harus membayar mahal.
Pendekatan ini terbilang radikal pada masanya. Alih-alih mengedepankan eksklusivitas, Persson memilih strategi volume, efisiensi produksi, dan harga kompetitif. Asumsi dasarnya sederhana namun visioner, yaitu fashion seharusnya dapat diakses oleh pasar massal, bukan hanya kalangan elite.
Strategi tersebut terbukti tepat. Dalam waktu relatif singkat, Hennes berkembang pesat dan membuka toko-toko baru, termasuk di Stockholm, memperluas jangkauannya di pasar domestik Swedia.
Perubahan besar terjadi pada 1968 ketika Hennes mengakuisisi Mauritz Widforss, sebuah toko perlengkapan berburu dan pakaian pria. Akuisisi ini membuka akses ke segmen pakaian pria dan anak-anak. Sejak saat itu, perusahaan resmi berganti nama menjadi Hennes & Mauritz (H&M), menandai transformasi bisnis yang lebih luas dan inklusif.
Ekspansi Global H&M
Tonggak penting berikutnya datang pada 1974, saat H&M melantai di Bursa Efek Stockholm. Status sebagai perusahaan publik memberi akses pendanaan yang lebih besar, memungkinkan percepatan ekspansi internasional.
Ekspansi dimulai dari negara-negara Skandinavia, lalu merambah Eropa Barat seperti Inggris, Jerman, dan Swiss—pasar dengan daya beli tinggi dan infrastruktur ritel yang matang. Strategi ekspansi H&M dikenal relatif konservatif, tetapi konsisten: perusahaan hanya memasuki pasar baru setelah model bisnisnya terbukti stabil di pasar sebelumnya.
Baca Juga: Strategi Brand Fashion Menjaga Konsistensi Koleksi di Tengah Perkembangan Digital
Dalam dekade-dekade berikutnya, H&M memperluas kehadirannya ke berbagai negara Eropa, lalu Amerika. Pembukaan toko flagship di New York City pada tahun 2000 menjadi penegasan posisi H&M sebagai brand global, sekaligus membuka jalan ekspansi lebih luas ke Amerika Utara, Asia, dan Timur Tengah.
Kini, H&M beroperasi di lebih dari 70 negara, dengan ribuan toko fisik serta kanal e-commerce yang menjadi tulang punggung pertumbuhan di era digital. Model ini menempatkan H&M sebagai salah satu pionir utama fast fashion, sejajar dengan raksasa industri lain seperti Zara.
Siapa Pemilik H&M?
Meski berstatus perusahaan publik, keluarga Persson tetap menjadi pemegang saham pengendali utama H&M Group. Setelah Erling Persson, tongkat estafet kepemimpinan dipegang oleh putranya, Stefan Persson, yang memimpin perusahaan selama periode ekspansi global besar-besaran pada 1980–1990-an.
Generasi ketiga, Karl-Johan Persson, kemudian menjabat sebagai CEO sebelum beralih ke peran strategis sebagai Chairman. Struktur kepemilikan keluarga ini memberi H&M stabilitas dalam pengambilan keputusan jangka panjang, sekaligus ruang untuk berinvestasi besar tanpa sepenuhnya tertekan oleh tuntutan pasar jangka pendek.
Baca Juga: Mengenal Feby Belinda, Istri Ahmad Sahroni yang Ternyata Pebisnis Fashion
Pada 2024, H&M menunjuk Daniel Ervér sebagai CEO baru. Penunjukan ini menandai fase transformasi yang lebih menekankan efisiensi operasional, penguatan kanal digital, serta peningkatan daya saing di tengah perubahan cepat industri fashion global.
Model Bisnis, Strategi Brand, dan Ekspansi Lifestyle
H&M menjalankan model fast fashion dengan fokus pada kecepatan produksi dan distribusi global. Desain dan perencanaan koleksi dikendalikan secara terpusat, sementara proses produksi mengandalkan jaringan pemasok internasional untuk menjaga efisiensi biaya.
Target utama H&M adalah konsumen mass-market urban, khususnya kelas menengah yang ingin mengikuti tren tanpa harga premium. Segmen ini mencakup konsumen muda hingga dewasa dengan gaya hidup urban yang mengutamakan pakaian fungsional, modis, dan terjangkau.
Untuk memperkuat citra brand, H&M secara konsisten meluncurkan kolaborasi dengan desainer dan label ternama dunia, mulai dari Karl Lagerfeld, Stella McCartney, Versace, hingga Balmain. Kolaborasi edisi terbatas ini tak hanya meningkatkan daya tarik brand, tetapi juga memperluas eksposur H&M di ranah fashion kelas atas.
Di luar brand utamanya, H&M Group mengembangkan portofolio label lain seperti COS, & Other Stories, Arket, Weekday, dan Monki, guna menjangkau segmen gaya hidup yang lebih luas. Strategi multi-brand ini memberi fleksibilitas bagi grup untuk menyesuaikan diri dengan berbagai preferensi konsumen tanpa mengorbankan identitas masing-masing label.
Dalam beberapa tahun terakhir, H&M juga memperluas bisnis ke kategori home, beauty, dan lifestyle melalui H&M Home serta lini produk non-apparel. Langkah ini bertujuan memperpanjang siklus konsumsi pelanggan sekaligus memperkuat posisi H&M sebagai brand gaya hidup global, bukan sekadar peritel pakaian.
Baca Juga: Indonesia Teguhkan Posisi di Puncak Modest Fashion Dunia
Tantangan Fast Fashion dan Isu Keberlanjutan
Sebagai raksasa fast fashion, H&M tak lepas dari kritik. Isu dampak lingkungan akibat produksi massal, limbah tekstil, hingga transparansi kondisi tenaga kerja di negara berkembang terus menjadi sorotan.
Sebagai respons, H&M meluncurkan berbagai inisiatif keberlanjutan, seperti penggunaan material daur ulang, program pengumpulan pakaian bekas di toko, serta target jangka panjang untuk meningkatkan proporsi bahan berkelanjutan. Namun, efektivitas dan dampak nyata dari program-program tersebut masih diperdebatkan.
Sebagian pihak melihatnya sebagai langkah konkret menuju perubahan, sementara yang lain menilainya sebagai bentuk greenwashing. Yang jelas, tekanan terhadap H&M kini semakin kompleks dan multidimensi.
H&M Hari Ini
Saat ini, H&M Group mengoperasikan ribuan toko di lebih dari 70 negara, melayani jutaan pelanggan setiap hari. Hingga akhir 2024, total gerai di bawah naungan H&M Group mencapai 4.253 toko di seluruh dunia. Brand H&M sendiri mengoperasikan 3.872 toko di 77 pasar, dengan platform online di 60 pasar.
Selain H&M, grup ini juga menaungi label seperti COS, & Other Stories, dan Arket sebagai bagian dari strategi diversifikasi ke segmen yang lebih premium. Namun, persaingan semakin ketat—baik dari rival tradisional seperti Inditex (Zara) maupun brand digital-native seperti Shein.
Perubahan perilaku konsumen, tekanan ekonomi global, serta tuntutan keberlanjutan menempatkan H&M dalam fase konsolidasi dan adaptasi strategis. Tantangan terbesarnya kini bukan hanya mempertahankan pertumbuhan, tetapi menyeimbangkan skala bisnis dengan tuntutan digitalisasi dan keberlanjutan yang semakin nyata.
Jawaban atas tantangan tersebut akan menentukan bab berikutnya dari kisah panjang H&M, apakah brand ini mampu tetap relevan, etis, dan kompetitif di era fashion global yang terus berubah?