Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2011–2014, Dahlan Iskan, mengenang pengalaman penuh tantangan saat pertama kali ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) pada 2009. Alih-alih mendapat sambutan hangat, ia justru menghadapi aksi penolakan dari sebagian pegawai PLN.
Dalam sebuah kesempatan, Dahlan menceritakan bahwa dirinya bahkan tidak bisa masuk ke kantor pusat PLN pada hari-hari awal penugasan tersebut karena aksi demonstrasi pegawai.
“Ketika saya diangkat menjadi direktur utama PLN, saya itu tidak bisa masuk kantor. Kantor pusat PLN itu diblokir oleh pendemo. Seluruh pagarnya dipasangi spanduk menolak kedatangan Dahlan Iskan,” beber Dahlan dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Senin (9/2/2026).
Ia melanjutkan, penolakan pun tidak berhenti di depan gedung. Bahkan ruang kerjanya pun dikunci sehingga ia tidak bisa menggunakannya.
“Kemudian ruang kerja saya dikunci, disegel, supaya saya tidak bisa masuk,” kenangnya.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat Dahlan mundur. Ia memilih tetap masuk kantor dan bekerja di mana pun memungkinkan, bahkan jika harus berpindah tempat.
“Saya tetap saja masuk kantor. Meskipun kantor saya dikunci, ya saya kerja di ruang rapat lah. Nanti kalau ruang rapatnya dikunci ya saya kerja di emperan juga tidak apa-apa,” katanya.
Menurut Dahlan, ia meyakini bahwa pihak yang menolak kehadirannya sebenarnya hanya sebagian kecil dari keseluruhan pegawai, meskipun kelompok tersebut sangat vokal.
“Tetapi tetap saya berpikir, yang menggerakkan dan yang tidak setuju ini kira-kira hanya 10 persen. Tapi vokalnya bukan main,” ujarnya.
Baca Juga: Kisah Dahlan Iskan Alami Pecah Aorta
Dahlan mengaku tetap bertahan karena tujuan utamanya adalah melakukan pembaruan di perusahaan listrik pelat merah tersebut.
Ia pun percaya mayoritas orang sebenarnya menginginkan perbaikan, meski sering kali suara mereka tidak sekeras pihak yang menolak perubahan.
“Saya bisa kerja di mana saja. Karena niat saya di situ melakukan perbaikan dan melakukan pembaharuan,” kata Dahlan.
Dahlan menilai, setiap upaya perubahan hampir selalu menghadapi resistensi. Namun menurutnya, jumlah pihak yang benar-benar menolak biasanya kecil.
“Saya selalu ingat bahwa orang yang menentang dilaksanakannya kebaikan itu maksimum 15 persen, bahkan kira-kira hanya 10 persen,” jelasnya.
Menurut Dahlan, pola tersebut berlaku hampir di semua organisasi dan masyarakat.
“Yang betul-betul tidak setuju pada pembaharuan dan perubahan itu kira-kira hanya 10 persen. Tetapi yang sangat setuju itu kira-kira juga hanya 10 sampai 15 persen. Sisanya itu sebetulnya ikut mana yang menang, ikut mana yang survive,” tutupnya.
Baca Juga: Pesan Dahlan Iskan untuk Pengusaha yang Ingin Terjun ke Politik