Mouly Surya menjadi sosok sutradara paling berpengaruh Tanah Air. Tak hanya berkutat di dalam negeri, prestasi gemilangnya diukir hingga ke kancah internasional yang membuat namanya sangat diperhitungkan di industri perfilman Indonesia. 

Merampungkan studi Media dan Sastra di Swinburne University dan Bond University di Australia, Mouly hadir menjadi sutradara yang berani mendobrak pakem-pakem  perfilman Indonesia yang telah lama dianut. Ia  hadir dengan segudang inovasi modern yang eksploratif ditunjang gaya sinematik unik.

Baca Juga: Sorot Tragedi Siswa SD di NTT, Jusuf Kalla Singgung Pengentasan Kemiskinan di Indonesia

Fiksi, adalah film debut Maoly yang langsung membetot perhatian publik. Maoly menghadirkan sesuatu yang berbeda lewat  film bergenre psikologis thriller. Genre ini tak lazim di perfilman Tanah Air ketika itu.

Dalam fiksi, Mouly membangun alur cerita yang berfokus pada sosok Alisha yang diperankan Ladya Chery, seorang perempuan muda dari keluarga kaya yang hidup dalam kesepian dan tekanan emosional. Ia tinggal di rumah besar bersama ayahnya yang tidak terlalu peduli.

Merasa terasing dari dunianya sendiri, Alisha kemudian pindah ke sebuah rumah susun sederhana, tempat di mana ia bertemu dengan berbagai karakter baru yang kehidupannya jauh dari glamor namun penuh dinamika.

Fiksi mendapat sanjungan setinggi langit, lewat trelear ini pula Maoly sukses  menyabet tiga penghargaan sekaligus yakni penghargaan Film Terbaik, Sutradara Film Terbaik, dan Penulis Skenario Terbaik di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2008 yang diselenggarakan pada 12 Desember 2008.

Penghargaan itu pula menjadikannya sebagai sutradara wanita pertama yang memenangkan penghargaan tersebut sejak pertama kali diberikan pada tahun 1955.

Sukses besar pada debutnya, Mouly tak berhenti. Ia terus mendobrak industri perfilman dengan karya-karya unik. 2018 ia kembali bikin geger publik lewat film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak.

Karya keduanya sukses besar bahkan jauh lebih sukses daripada Fiksi. Film  ini bahkan terpilih mewakili Indonesia pada ajang Academy Awards 2019 dan akan bersaing dengan deretan film lainnya untuk menyabet penghargaan kategori Best Foreign Language.

Film karya sutradara Mouly Surya ini dipilih berdasarkan ketentuan yang penyelenggara Oscar tetapkan untuk kategori Best Foreign Film. Setiap negara hanya berhak memilih satu film untuk bersaing di Oscar.

Tak tunggu waktu lama, pada 2025 Mouly sekali lagi membuat  publik terhenyak lewat film Perang Kota. Film yang diadaptasi dari  novel klasik Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis itu laku keras dan kembali mendapat sambutan hangat dari publik Tanah Air. 

Dalam film dengan latar belakang Kota Jakarta pasca-kemerdekaan tahun 1946 itu Mouly melibatkan banyak pihak, tak hanya melibatkan industri dalam negeri  ia juga mengandung beberapa pihak luar, dalam pengerjaan efek visual Mouly menyerahkan untuk dikerjakan di Amerika Serikat sedangkan tata suara dituntaskan di  Prancis.

Debut di Hollywood

Mouly bukan sutradara lokal yang jago kandang, ia juga bukan tipe yang cepat puas, sukses menghentak perfilman Indonesia ia melebarkan sayapnya ke panggung internasional yang menjadikannya sutradara Indonesia pertama yang menembus panggung megah Hollywood.

Baca Juga: Janji Prabowo di Hadapan Ulama: Indonesia Akan Keluar dari Board of Peace Jika Tak Untungkan Palestina

Pada 2024 Mouly debut di Hollywood dengan menyutradarai Trigger Warning sebuah film aksi-thriller yang diperankan oleh  Jessica Alba.

Tak main-main, debut di Hollywood Mouly  menggandeng sejumlah penulis kawakan seperti John Brancato, Josh Olson, dan Halley Gross. Film ini diproduksi oleh Thunder Road Films dan Lady Spitfire, dan turut dibintangi oleh Mark Webber, Tone Bell, Jake Weary, Gabriel Basso, dan Anthony Michael Hall.