Sesampainya di Surabaya, dokter kembali fokus pada gangguan pencernaan karena selama lima hari ia tidak bisa buang air besar maupun buang gas. Namun, tak ada masalah serius yang ditemukan.
Kondisinya tak kunjung membaik hingga akhirnya seorang temannya menyarankan agar ia memeriksakan diri ke Singapura. Di sana pun awalnya ia menemui dokter pencernaan, tetapi dokter tersebut merasa ada sesuatu yang lain.
“Dokter bilang, Pak Dahlan ini pencernaan Anda ini tidak segawat apa yang Anda keluhkan. Jangan-jangan ini ada hal yang lain,” bebernya.
Ia kemudian menjalani CT scan. Hasilnya mengejutkan. Begitu hasil keluar, dokter langsung meminta Dahlan masuk ICU tanpa banyak penjelasan.
“Sekarang juga Pak Dahlan masuk ICU. Ini bahaya sekali. Mestinya sudah mati waktu di Madinah,” kata Dahlan menirukan dokter.
Baru kemudian ia mengetahui bahwa pembuluh darah utama yang keluar dari jantungnya mengalami robekan.
“Dokter mengatakan memang ini sakit sekali, melebihi sakitnya sakit jantung,” katanya.
Awalnya dokter mempertimbangkan operasi besar di bagian leher untuk membuat jalur aliran darah darurat ke otak. Namun setelah CT scan lanjutan, diketahui bahwa robekan terjadi setelah cabang pembuluh darah menuju otak, sehingga tindakan operasi besar tidak diperlukan.
Solusinya adalah pemasangan stent graft atau semacam selang khusus sepanjang hampir setengah meter di dalam aorta untuk memperkuat pembuluh darah tersebut.
“Jadi saluran darah utama saya sekarang sudah ada selangnya di dalamnya, dan harganya 500 juta. Barangnya saja harganya 500 juta,” tandas Dahlan.
Baca Juga: Ketika Dahlan Iskan Didekap Kerugian Hingga Triliunan Rupiah