Perjalanan hidup Mendiang Ciputra adalah kisah tentang mimpi besar yang tumbuh dari keterbatasan, lalu menjelma menjadi filosofi kewirausahaan yang mengubah cara berpikir banyak orang di Indonesia. Semua berawal dari sebuah desa kecil di Gorontalo.
“Pertama waktu saya sekolah, saya tinggalkan kampung saya di Desa Bumbulan Gorontalo tersebut dengan cita-cita untuk jadi Arsitek,” ungkap Ciputra dalam sebuah video yang dikutip Olenka, Kamis (22/1/2026).
Sebagai anak desa, impian itu terbilang berani. Ciputra muda membayangkan dirinya membangun gedung-gedung megah, sebuah gambaran yang jauh dari realitas hidupnya saat itu.
“Itu cita saya membarang, jadi Arsitek. Saya ingin bangun gedung, sebagai anak desa. Saya sampai di Gorontalo masih tidak memakai Sepatu,” tutur Ciputra.
Namun, sejak awal, ia tidak hanya bermimpi. Naluri wirausaha sudah tumbuh bersamaan dengan bangku sekolah.
Di tengah kesibukan belajar, Founder Ciputra Group itu mengaku sudah mulai berusaha. Ia tidak menunggu lulus untuk bergerak.
“Nah, waktu saya sedang sekolah, saya sudah mempunyai usaha. Saya bikin furniture, saya desain furniture, suruh buat, saya jual,” ujarnya.
Pengalaman ini membentuk pola pikirnya, bahwa belajar bukan sekadar teori, melainkan praktik nyata. Setelah itu, jalur profesional pun ia tempuh.
“Kemudian saya bekerja di Biro Arsitek, praktik. Kemudian saya mendirikan Biro Arsitek sendiri. Nah, itulah,” tukasnya.
Namun, justru di titik inilah kesadaran penting muncul, sebuah refleksi yang mengubah arah hidupnya. Dalam praktiknya, Ciputra menyadari bahwa menjadi arsitek bukan hanya soal menggambar dan mendesain, tetapi juga soal mencari proyek.
“Baru saya mikir dan mengerti bahwa pekerjaan seorang Arsitek itu harus berkeliling untuk minta proyek,” terangnya.
Ia pun membayangkan dirinya harus mengetuk pintu demi pintu, menawarkan jasa.
“Pak, saya sebagai Arsitek, punya Biro Arsitek, tolong serahkan saya pekerjaan, saya baru desain,” ujarnya.
Baca Juga: Belajar Menciptakan Peluang dari Kisah Ciputra Membangun Pondok Indah
Bagi Ciputra, posisi ini terasa tidak sesuai dengan nilai yang ia yakini. Maka ia pun bertanya pada dirinya sendiri ‘adakah cara lain?’.
“Nah, saya langsung pakai otak, bagaimana saya mengatasi itu? Saya bilang, tidak,” tegasnya.
“Saya harus opportunity creation atau menciptakan kesempatan. Bukan mencari peluang, tapi menciptakan kesempatan,” lanjut Ciputra.
Bagi Ciputra, kesempatan bukan sesuatu yang ditunggu, melainkan dibangun. Jika ia memiliki proyek sendiri, maka arah dan bentuknya ada di tangannya.
“Kesempatan apa? Yaitu kalau saya mempunyai proyek, maka kesempatan saya untuk membangun proyek macam apa?,” tuturnya.
Ia pun menyadari bahwa dengan menciptakan proyek, ia bisa menentukan segalanya.
“Kesempatan buat saya membangun kantor, membangun hotel, membangun supermarket, kantor, itu terserah saya,” ungkap Ciputra.
“Jadi kemandirian mencipta itu dalam tangan saya sebagai seorang developer,” sambung Ciputra.
Kesadaran itu pun membuat Ciputra mengambil keputusan yang sangat menentukan, bahkan sebelum ia lulus.
“Sebelum saya tamat, saya bilang, tidak. Saya tidak mau jadi Arsitek, saya akan jadi developer.” Tegasnya.
Bukan karena ia meninggalkan ilmu arsitektur, tetapi kata dia, karena ia ingin melampaui batas profesi.
“Saya akan menciptakan proyek saya sendiri, opportunity creation,” pungkas Ciputra.
Baca Juga: Mental Mandiri ala Ciputra: Jangan Bersandar pada Belas Kasihan Orang Lain