Kasus dugaan keracunan MBG di SMA Berastagi terus menjadi sorotan. Pemeriksaan laboratorium terhadap sejumlah sampel makanan dan muntah siswa menunjukkan adanya beberapa jenis bakteri yang ditemukan dalam sampel tersebut. Temuan ini turut mendapat perhatian dari dr. Ferry Kusmalingga.
Lewat unggahan yang dibagikan di akun Threads miliknya, @dr.ferrykslg, dr. Ferry menyoroti hasil pemeriksaan laboratorium dalam kasus tersebut. Berdasarkan hasil laboratorium yang dibacanya, terdapat sejumlah bakteri yang ditemukan pada beberapa sampel makanan maupun sampel muntah siswa.
dr. Ferry mengungkap, bakteri yang ditemukan antara lain Bacillus cereus pada sampel nasi dari sekolah, Staphylococcus aureus pada sampel ikan dan saus, serta Escherichia coli (E. coli) pada sampel melon. Sementara itu, bakteri Staphylococcus aureus juga ditemukan dalam sampel muntah siswa.
“Tidak ada/negatif salmonella pada sampel yang diperiksa,” tulis dr. Ferry melalui unggahannya.
Menurut dr. Ferry, temuan tersebut dapat menjadi salah satu petunjuk untuk menjelaskan terjadinya keracunan makanan. Salah satu bakteri yang menjadi perhatian adalah Staphylococcus aureus (S. aureus), yang dapat mencemari makanan melalui tangan penjamah makanan, kulit, maupun hidung.
Bakteri tersebut dapat berkembang biak ketika makanan disimpan pada suhu yang tidak tepat. Dalam kondisi tertentu, S. aureus (SA) menghasilkan enterotoksin yang tahan panas sehingga toksinnya dapat tetap bertahan meskipun bakterinya sudah mati akibat proses pemanasan.
“SA dapat mencemari makanan melalui tangan ‘penjamah’ makanan, kulit/hidung, kemudian berkembang biak apabila makanan disimpan pada suhu yang tidak tepat,” jelas dr. Ferry.
“Bakteri ini dapat menghasilkan toksin yang menyebabkan muntah hebat, mual, kram perut, dan diare,” lanjutnya.
Selain S. aureus, dr. Ferry menyoroti temuan Bacillus cereus pada nasi. Bakteri ini merupakan bakteri pembentuk spora yang kerap dikaitkan dengan makanan berkarbohidrat tinggi, seperti nasi, pasta, dan mi.
Menurut dr. Ferry, Bacillus cereus sering ditemukan pada makanan yang dimasak dalam jumlah besar, kemudian dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang atau tidak disimpan kembali dengan benar. Sama seperti beberapa toksin bakteri lainnya, toksin yang dihasilkan Bacillus cereus dapat tetap bertahan meskipun makanan dipanaskan kembali.
“Bacillus cereus adalah bakteri pembentuk spora yang dapat mencemari makanan berkarbohidrat tinggi, contoh nasi/pasta/mi,” tulisnya.
“Bakteri ini dapat menghasilkan toksin yang menyebabkan muntah atau diare akut,” tambah dr. Ferry.

Soroti Kasus Gagal Ginjal
Hal lain yang menjadi perhatian dr. Ferry adalah adanya laporan korban yang mengalami gagal ginjal. Ia kemudian mengaitkannya dengan ditemukannya E. coli pada sampel melon dari sekolah.
Menurutnya, memang terdapat strain tertentu dari E. coli yang dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk gangguan ginjal. Salah satunya adalah Shiga toxin-producing E. coli (STEC).
“Beberapa strain bakteri Escherichia coli (E. coli) dapat menyebabkan gagal ginjal, terutama melalui komplikasi dari strain tertentu atau infeksi berat,” jelasnya.
Infeksi STEC, lanjut dr. Ferry, dapat menyebabkan diare berat atau berdarah, kerusakan sel darah, hingga penurunan jumlah trombosit. Pada kondisi tertentu, infeksi tersebut dapat berkembang menjadi hemolytic uremic syndrome (HUS), yang dapat menyebabkan cedera ginjal akut.
“Strain E. coli (STEC) bisa menyebabkan diare berat atau berdarah, kerusakan sel darah, trombosit turun, acute kidney injury/gagal ginjal akut melalui HUS (hemolytic uremic syndrome),” ungkap dr. Ferry.
Meski demikian, dr. Ferry menekankan bahwa temuan E. coli pada satu sampel tidak serta-merta membuktikan bahwa bakteri tersebut menjadi penyebab gagal ginjal pada seluruh korban. Diperlukan pemeriksaan dan evaluasi klinis lebih lanjut untuk memastikan hubungan antara infeksi, kondisi pasien, dan komplikasi yang terjadi.
dr. Ferry juga menjelaskan bahwa cedera ginjal akut dapat terjadi melalui mekanisme lain, misalnya akibat dehidrasi berat setelah mengalami muntah dan diare terus-menerus. Kondisi tersebut dapat menyebabkan tekanan darah turun dan aliran darah ke ginjal berkurang.
“Lalu ada juga berbagai kemungkinan lain seperti dehidrasi berat, diare berat, muntah terus menerus, tekanan darah turun. Ketika aliran darah ke ginjal berkurang, bisa menyebabkan cedera ginjal akut juga,” kata dr. Ferry.
Mengapa Bisa Menyerang Saraf Otak?
Lebih lanjut, dr. Ferry juga menanggapi laporan mengenai korban yang mengalami gangguan pada sistem saraf, termasuk amnesia. Menurutnya, kondisi tersebut jauh lebih kompleks dan tidak dapat langsung disimpulkan hanya berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium yang tersedia.
“Sebenarnya sangat complex ya. Kemungkinannya banyak, dan karena saya tidak memeriksa pasien secara langsung, saya coba bahas kemungkinan yang terjadi ya,” tulisnya.
Ia mengingatkan bahwa panel pemeriksaan laboratorium yang tersedia hanya mendeteksi beberapa jenis bakteri, yakni Salmonella, E. coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus. Sementara itu, kejadian keracunan massal dapat disebabkan oleh berbagai agen lain.
“Panel pemeriksaan pada hasil lab di atas hanya mencari beberapa bakteri: Salmonella, E. coli, Staphylococcus aureus, Bacillus cereus,” jelas dr. Ferry.
“Sementara keracunan massal juga dapat disebabkan oleh virus, bakteri lain, parasite, toksin, kontaminasi kimia, pestisida, logam,” lanjutnya.
Karena itu, menurut dr. Ferry, munculnya gangguan pada sistem saraf perlu dievaluasi lebih mendalam. Salah satu kemungkinan yang perlu diperiksa adalah terjadinya syok atau sepsis yang dapat memengaruhi fungsi organ, termasuk sistem saraf.
“Untuk infeksi saraf otak, perlu diperiksa kembali kemungkinan adanya syok/sepsis,” katanya.
Minta Evaluasi Serius Program MBG
Dan, di tengah berbagai temuan dan laporan kondisi korban tersebut, dr. Ferry berharap, Badan Gizi Nasional (BGN) segera melakukan evaluasi secara serius terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya terkait keamanan pangan dan standar dapur.
“Semoga BGN segera menindak dan mengevaluasi serius program ini. Satu kasus keracunan sudah terlalu banyak,” tegasnya.
“Saya berharap tidak ada lagi kasus seperti ini. Anak-anak adalah mutiara hati setiap orang tuanya,” lanjut dr. Ferry.
Sambil menunggu proses evaluasi, dr. Ferry juga mengingatkan orang tua untuk memberikan edukasi sederhana kepada anak-anak mengenai keamanan makanan. Ia menyarankan anak selalu mencuci tangan sebelum makan dan tidak mengonsumsi makanan yang sudah berbau atau memiliki rasa yang tidak normal.
“Untuk ibu-ibu dan orang tua yang khawatir, sembari kita menunggu evaluasi dari BGN, jangan lupa ingatkan anak-anaknya untuk senantiasa mencuci tangan sebelum makan dan jangan makan makanan yang sudah berbau/rasa sudah aneh,” tulisnya.
Ia pun kembali mendorong adanya perbaikan terhadap standar pengelolaan makanan dan dapur dalam pelaksanaan program MBG.
“Sembari kita terus berdoa agar program ini dan standar dapur bisa segera dievaluasi. Berbenahlah,” pungkas dr. Ferry.
Baca Juga: Mahfud MD Endus Unsur Kesengajaan dalam Kasus Keracunan, MBG Sudah Disabotase?