“Bangunan fisiknya ini yang pertama itu nanti sekurang-kurangnya akan ada kegiatan gerai sembako yang menjual produk kebutuhan pokok dan sehari-hari dan akan dikelola secara retail modern,” jelas Ferry.
“Yang kedua ada apotik dan klinik desa. Yang ketiga ada lembaga keuangan mikronya. Yang keempat ada perusahaannya. Yang kelima ada logistiknya,” sambung Ferry.
Ferry menambahkan, di luar lima unit utama tersebut, setiap koperasi desa tetap diberi keleluasaan mengembangkan usaha sesuai potensi masing-masing wilayah. Mulai dari kuliner, kerajinan, hingga sektor lain yang relevan dengan karakter desa.
Namun, pembangunan fisik bukan satu-satunya fokus. Kementerian Koperasi juga menyiapkan sumber daya manusia agar koperasi tidak dikelola dengan pola lama yang ketinggalan zaman. Pelatihan bagi pengurus dan pengelola dilakukan secara paralel, termasuk dengan melibatkan generasi muda.
“Sekarang Kementerian Koperasi sedang paralel melatih pengurus-pengurus koperasinya dan pengelola koperasinya supaya nggak jadul juga. Karena sekarang modul-modul pelatihannya kita juga libatin anak-anak muda,” bebernya.
Untuk memperkuat pengelolaan bisnis, lanjut dia, pemerintah merekrut sekitar 8.000 business assistant yang akan mendampingi operasional koperasi di lapangan. Targetnya, ketika bangunan fisik rampung pada April, sumber daya manusia dan sistem bisnisnya sudah siap berjalan.
“Orangnya sudah siap untuk bisnis dan sistemnya juga sudah siap,” kata Ferry.
Ke depan, sambung Ferry, pembangunan pun akan terus berlanjut secara bertahap.
Ferry mengungkapkan bahwa pada Juli mendatang akan ada tambahan unit yang selesai dibangun, dan hingga akhir tahun 2026 ditargetkan sekitar 80.000 koperasi desa telah menyelesaikan pembangunan fisiknya.
“Harapannya, InsyaAllah bisa 80.000 kooperasi desa itu bisa selesai bangunan fisiknya,” pungkasnya.
Baca Juga: Gandeng PKK Perkuat Koperasi Merah Putih, Kemenkop UKM: Perempuan Menjadi Agen Perubahan