Pengamat politik Adi Prayitno mengatakan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kini benar-benar ditinggal sendiri oleh para loyalisnya. Saat masih berkuasa, eks Gubernur DKI Jakarta itu menjalin hubungan baik dengan hampir seluruh ketua umum partai politik, namun saat ini para ketum parpol benar-benar menjaga jarak, bahkan sekarang ini tak ada satu pun ketua umum partai politik yang sowan ke Solo.
Fenomena ini kata Adi mengonfirmasi bahwa pengaruh politik Jokowi memang semakin memudar pasca purna tugas setelah satu dekade memerintah bangsa ini.
Baca Juga: Emangnya Jokowi Masih Sakti Mandraguna Kalau Jadi Ketum PSI?
"Per hari ini ketua umum-ketua umum partai itu memang relatif menjaga jarak memang dengan Pak Jokowi," ujar Adi dilansir Kamis (29/10/2026).
"Kan nyaris kita tidak pernah menyaksikan secara terbuka ketua umum-ketua umum partai ini kan datang ke ratapan tembok Solo misalnya kan, enggak ada itu," tambahnya.
Dulu para ketua umum partai politik berebut bertemu Jokowi, itu wajar sebab sebagai presiden Jokowi masih memegang kendali peta politik Tanah Air, namun pengaruh besar itu perlahan pudar setelah ia purna tugas.
"Kalau dulu iya karena Pak Jokowi itu posisinya sebagai presiden. Logikanya adalah partai-partai koalisional pemerintah itu pasti akan tegak lurus kepada presidennya," ujarnya.
Lebih jauh, Adi menilai realitas politik ini menjadi potret suram dari iklim dan budaya politik transaksional di tanah air. Menurutnya, terdapat pola berulang di mana seorang pejabat yang sudah tidak lagi memegang kekuasaan bakal ditinggalkan oleh rekan-rekan koalisi lamanya.
"Inilah hancurnya bagaimana budaya politik di negara kita. Ada kecenderungan kalau sudah tak lagi jadi pejabat publik apalagi tak lagi jadi presiden, kawan-kawan lama itu sudah hengkang dan angkat kaki dan tentu sudah punya partner yang baru yaitu adalah presiden yang saat ini sedang berkuasa," kata Adi.
Ia menambahkan, situasi ini membuat Jokowi kini dinilai nyaris tidak lagi mengantongi dukungan figur kunci di internal parpol yang dapat diandalkan untuk menjaga pengaruh politiknya.
Baca Juga: PKS Mau Komandoi Hak Angket Ijazah Gibran, PSI: Ya Allah, Ya Rasulullah!
Bagi Adi, kondisi tersebut sangat erat kaitannya dengan fenomena powerless atau melemahnya daya tawar kekuatan politik. Tanpa adanya instrumen kekuasaan negara, Jokowi dinilai tidak lagi memiliki kapasitas dan daya pikat yang sama dalam membangun komunikasi serta mempertahankan kedekatan politik secara intensif dengan para petinggi partai politik nasional.