4. Cara merespons perlu disesuaikan dengan kondisi anak
Ketika tantrum terjadi dan anak masih berada dalam kondisi aman serta mampu berkomunikasi, orang tua dapat tetap tenang dan tidak langsung memberikan apa yang sedang dituntut anak.
Orang tua dapat menawarkan pilihan yang sesuai atau membantu anak menemukan cara lain untuk menyampaikan kebutuhannya. Namun, pembelajaran tersebut lebih efektif dilakukan setelah anak sudah kembali tenang.
Sementara ketika anak mengalami meltdown, prioritas utamanya adalah keamanan dan pemulihan.
Kurangi tuntutan dan hindari memaksa anak menjawab banyak pertanyaan ketika ia sedang berada di puncak kewalahan. Kalimat sederhana seperti, “Kamu aman” atau “Aku ada untukmu” dapat digunakan sambil memberikan ruang dan waktu agar anak kembali tenang.
Dengan demikian, tujuan orang tua bukan sekadar menghentikan tangisan atau perilaku yang muncul, tetapi membantu anak melewati kondisi kewalahan tersebut dengan aman.
5. Setelah anak tenang, bukan berarti prosesnya selesai
Satu hal yang kerap luput adalah kondisi anak setelah episode tantrum atau meltdown berakhir. Anak yang sudah berhenti menangis dan terlihat tenang belum tentu sepenuhnya pulih.
Setelah mengalami respons yang intens, anak dapat merasa lelah dan memiliki toleransi yang lebih rendah terhadap berbagai tuntutan. Karena itu, orang tua tetap perlu memberikan waktu pemulihan dan membantu anak melakukan co-regulation.
Bentuknya tidak harus rumit. Orang tua dapat tetap berada di dekat anak, menawarkan aktivitas yang familiar dan menenangkan, serta menunggu sampai anak siap kembali melakukan aktivitas seperti biasa.
Setelah situasi mereda, orang tua juga dapat mengevaluasi apa yang terjadi sebelumnya. Misalnya, apakah anak kurang tidur, terlambat makan, terlalu lama berada di tempat ramai, mengalami perubahan aktivitas, atau menghadapi terlalu banyak tuntutan dalam waktu bersamaan.
Mencatat pemicu dan pola perilaku secara sederhana dapat membantu orang tua mengenali kebutuhan anak dan mengantisipasi situasi serupa di kemudian hari.
Kapan orang tua perlu mencari bantuan profesional?
Tantrum dapat menjadi bagian dari proses perkembangan anak. Namun, orang tua perlu mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga profesional apabila tantrum terjadi sangat sering atau berlangsung sangat lama, menimbulkan risiko cedera pada anak maupun orang lain, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari anak dan keluarga.
Hal serupa dapat dipertimbangkan ketika anak berulang kali mengalami overload atau meltdown dan keluarga kesulitan memahami pemicunya.
Psikolog dapat membantu mengevaluasi aspek emosi, perilaku, perkembangan, serta kemampuan regulasi anak. Sementara itu, occupational therapist dapat membantu memahami bagaimana anak memproses input sensorik dan bagaimana kondisi tersebut memengaruhi aktivitas sehari-harinya.
Nah Growthmates, pada akhirnya, memahami perbedaan antara tantrum, overload, dan meltdown dapat membantu orang tua melihat perilaku anak dari sudut pandang yang lebih utuh.
Pertanyaannya bukan hanya, “Bagaimana supaya anak berhenti menangis?”, tetapi juga, “Apa yang membuat anak saya kewalahan, dan apa yang bisa saya lakukan untuk membantunya?”.