Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turut mengingatkan para elite politik untuk tidak meremehkan kemampuan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Adapun ucapan tersebut kembali disorot usai Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bestari Barus mengunggah ulang video lawas KDM.
Menurut KDM, kemampuan politik putra sulung Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) tidak bisa dinilai hanya dari penampilan, gaya bicara, maupun sikap yang terlihat di publik.
Baca Juga: Gibran Gak Mau Mundur, Dinasti Jokowi Bisa Hancur Lebur
"Hati-hati terhadap Mas Gibran. Yang lain politisinya polos-polos, bersikap hanya dengan kata-katanya, tapi tidak dengan rasanya, yang ini hati-hati," cetus Dedi dalam video yang dikutip, Jumat (15/10/2026).
Lebih lanjut, dalam video tersebut Dedi pun mengajak publik untuk memperhitungkan latar belakang keluarga Gibran, termasuk pendidikan budaya Jawa dan tradisi Solo.
Baca Juga: Kok Bisa Pansus Ijazah Untungkan Gibran?
"Dia itu adalah anak Pak Jokowi. Karena anaknya Pak Jokowi, dia ngerti betul kebudayaan Jawa. Dia ngerti betul bagaimana tradisi Solo. Mas Gibran pasti mendapat pendidikan sangat kuat tentang etika, tentang budi pekerti dalam keluarga, dalam bahasa kesehariannya tentang adab," tambahnya.
Selain itu, dirinya juga menyoroti aksi Gibran ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua. "Yang kedua yang diberikan oleh Mas Gibran tentang sikap, adab, tenang, hormat kepada semua. Selalu membungkukkan badan ketika bertemu dengan yang lebih tua, tidak kelihatan emosional," tambahnya. ungkapnya.
Kemudian, dirinya menilai kemampuan Gibran dalam memanfaatkan ruang digital menjadi modal penting bagi politisi di tengah perubahan pola komunikasi masyarakat.
"Gibran memiliki literasi digital yang jauh melampaui para politisi senior. Ia piawai membaca tren media sosial, mendesain narasi, dan melahirkan celetukan unik yang secara cepat mampu menguasai perbincangan publik dan menjadi viral," tukasnya.