Hal lain yang perlu diketahui, keberadaan ciguatoksin tidak dapat dikenali hanya dengan melihat kondisi fisik ikan. Ikan yang mengandung toksin tersebut tidak harus terlihat sakit. Begitu pula dengan kondisi perairannya yang tidak selalu tampak kotor.

Ciguatoksin juga umumnya tidak menyebabkan perubahan yang mudah dikenali pada rasa, bau, maupun tampilan ikan. Artinya, ikan yang terlihat segar belum tentu terbebas dari toksin tersebut.

Selain ciguatoksin, ikan yang berasal dari perairan tercemar juga dapat mengandung merkuri maupun polutan lainnya. Risiko ini, menurut Prof. Joko, umumnya lebih menjadi perhatian pada ikan predator berukuran besar dan berumur panjang.

“Selain ciguatoksin, ikan dari perairan tercemar dapat mengandung merkuri atau polutan lainnya. Risiko biasanya lebih diperhatikan pada ikan predator yang besar dan berumur panjang,” kata Prof. Joko.

Untuk mengurangi risiko, masyarakat dapat lebih memperhatikan asal ikan sebelum membeli atau mengonsumsinya. Prof. Joko menyarankan untuk memilih ikan dari sumber yang jelas dan, bila memungkinkan, mengetahui lokasi penangkapannya.

Masyarakat juga perlu lebih berhati-hati terhadap ikan kakap predator berukuran sangat besar, khususnya yang berasal dari ekosistem terumbu karang. Jika tersedia, memilih ikan berukuran lebih kecil dapat menjadi salah satu pertimbangan karena ikan yang lebih besar dan lebih tua berpotensi mengakumulasi toksin dalam jumlah lebih banyak.

Namun, kesegaran ikan tidak dapat dijadikan indikator untuk mengetahui ada atau tidaknya ciguatoksin. Untuk mencegah risiko akibat bakteri, konsumen tetap perlu memilih ikan dengan kondisi fisik yang baik, seperti mata yang jernih, insang yang tidak berlendir atau berbau menyengat, serta daging yang masih kenyal. Ikan juga sebaiknya disimpan dalam kondisi dingin.

Ikan kemudian perlu dimasak hingga matang untuk mengurangi risiko mikroorganisme penyebab penyakit. Meski demikian, proses memasak tidak dapat menghancurkan ciguatoksin.

“Yang paling penting, jika suatu daerah memiliki peringatan resmi mengenai ciguatera, sebaiknya jangan mengonsumsi ikan karang predator dari daerah tersebut meskipun ikannya tampak sehat,” pungkas Prof. Joko.

Baca Juga: Autoimun Lebih Banyak Menyerang Wanita, Ini Gejala dan Faktor Risikonya Menurut Pakar