Growthmates, ikan kakap menjadi salah satu jenis ikan yang banyak dikonsumsi karena rasanya yang lezat dan kandungan gizinya. Namun, pada kondisi tertentu, ikan kakap juga dapat membawa risiko kesehatan yang perlu diperhatikan, terutama jika berasal dari habitat atau wilayah penangkapan tertentu.

Dosen Departemen Teknologi Hasil Perairan IPB University, Prof. Joko Santoso, menjelaskan bahwa masyarakat tidak perlu menghindari ikan kakap secara umum.

Risiko kesehatan hanya berkaitan dengan kondisi tertentu, seperti jenis ikan, ukuran, habitat, lokasi penangkapan, hingga cara penanganannya.

“Ikan kakap pada umumnya aman dikonsumsi. Risiko muncul pada kondisi tertentu, terutama terkait jenis dan ukuran ikan, habitat, lokasi penangkapan, serta cara penanganannya,” kata Prof. Joko, dikutip dari laman IPB University, Selasa (22/9/2026).

Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah ciguatera, yakni keracunan yang disebabkan oleh ciguatoksin. Toksin ini berasal dari rantai makanan laut dan dapat dihasilkan oleh mikroalga atau ganggang laut kecil, termasuk Gambierdiscus.

Toksin kemudian dapat terakumulasi dalam tubuh ikan yang memakan organisme laut yang telah terkontaminasi.

Menurut Prof. Joko, tidak semua ikan kakap memiliki risiko yang sama. Kakap yang hidup di ekosistem terumbu karang, terutama yang berukuran besar, berumur lebih tua, dan bersifat predator, cenderung memiliki risiko lebih tinggi untuk mengakumulasi ciguatoksin.

“Spesies, habitat, ukuran, umur, dan lokasi penangkapan menjadi faktor penting. Kakap yang hidup di ekosistem terumbu karang dan berukuran lebih besar serta lebih tua cenderung lebih berisiko mengakumulasi ciguatoksin,” jelasnya.

Risiko ciguatera juga tidak merata di seluruh wilayah perairan. Keracunan akibat ciguatoksin terutama menjadi perhatian di wilayah tropis dan subtropis tertentu, sehingga kondisi geografis dan lokasi ikan ditangkap turut menjadi pertimbangan.

“Selain itu, ciguatera terutama menjadi perhatian di wilayah tropis dan subtropis tertentu. Karena itu, tidak semua perairan memiliki tingkat risiko yang sama,” ujarnya.

Baca Juga: Fruktosa dalam Buah Bisa Picu Asam Urat? Begini Penjelasan Pakar