Jahja juga bilang, proses tersebut perlu diawali dengan pemantauan. Pemimpin dapat mengamati apakah keputusan yang diambil oleh anggota tim sudah sejalan dengan pertimbangan dan standar yang diharapkan.
Dengan cara ini, kata dia, kepercayaan diberikan secara bertahap berdasarkan kemampuan yang ditunjukkan.
“Tidak mudah. Saat mulai memberikan wewenang, Anda harus berani memberikan wewenang. Tetapi awalnya Anda monitor,” ungkapnya.
Jahja menjelaskan, pemantauan itu tidak berarti pemimpin harus terus mengendalikan setiap keputusan. Ketika anggota tim sudah mampu mengambil keputusan yang sebagian besar sesuai dengan ekspektasi, pemimpin perlu memberi mereka ruang untuk bekerja secara mandiri.
“Apakah putusan-putusan dia sesuai tidak kira-kira dengan Anda. Kalau sudah 70–80 persen, let go. Artinya dia bisa menjalankan sendiri,” tukasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki cara berpikir dan pendekatan yang berbeda. Karena itu, pemimpin tidak seharusnya menuntut anggota tim mengambil keputusan yang sepenuhnya sama dengan dirinya.
“Karena tidak mungkin dia copy paste 100 persen seperti kita,” pungkas Jahja.
Baca Juga: Jahja Setiaatmadja: Kalau Sudah Sukses, Jangan Pernah Tinggi Hati