Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, membagikan pelajaran kepemimpinan dari perjalanan kariernya, terutama tentang pentingnya mendelegasikan pekerjaan dan membangun kepercayaan terhadap tim.
Dikatakan Jahja, seorang pemimpin tidak bisa terus-menerus mengerjakan segala sesuatu sendiri, melainkan perlu memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengambil keputusan dan berkembang.
Jahja mengaku, dirinya pernah menjalani masa ketika pekerjaannya menyita banyak waktu, bahkan hingga larut malam. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa kebiasaan tersebut tidak bisa terus dipertahankan.
“Saya dulu kerja betul-betul. Waktu awal karier saya itu bekerja sampai jam 12 malam bisa. Sampai jam 1 pagi, jam 2 pagi bisa,” aku Jahja, dalam sebuah video, sebagaimana dikutip Olenka, Sabtu (10/10/2026).
Pengalaman tersebut membuatnya mulai mengubah cara bekerja. Ia menyadari, perlunya membagi tanggung jawab dan mempercayakan sebagian pekerjaan kepada orang lain, alih-alih terus menangani semuanya secara langsung.
“Belakangan saya bilang kalau begini terus, waduh bisa saya bermutu, bermuka tua pak. Jadi saya mencoba mendelegasikan pekerjaan-pekerjaan. Harus mempercaya orang lain,” katanya.
Meski demikian, Jahja menilai, mendelegasikan pekerjaan bukan perkara mudah. Menurutnya, pemimpin harus berani memberikan wewenang kepada anggota tim, sekaligus memastikan bahwa mereka mampu menjalankan tanggung jawab yang diberikan.
Baca Juga: Jahja Setiaatmadja Bicara Leadership: Saat Gagal, Leader Harus Pasang Badan
Jahja juga bilang, proses tersebut perlu diawali dengan pemantauan. Pemimpin dapat mengamati apakah keputusan yang diambil oleh anggota tim sudah sejalan dengan pertimbangan dan standar yang diharapkan.
Dengan cara ini, kata dia, kepercayaan diberikan secara bertahap berdasarkan kemampuan yang ditunjukkan.
“Tidak mudah. Saat mulai memberikan wewenang, Anda harus berani memberikan wewenang. Tetapi awalnya Anda monitor,” ungkapnya.
Jahja menjelaskan, pemantauan itu tidak berarti pemimpin harus terus mengendalikan setiap keputusan. Ketika anggota tim sudah mampu mengambil keputusan yang sebagian besar sesuai dengan ekspektasi, pemimpin perlu memberi mereka ruang untuk bekerja secara mandiri.
“Apakah putusan-putusan dia sesuai tidak kira-kira dengan Anda. Kalau sudah 70–80 persen, let go. Artinya dia bisa menjalankan sendiri,” tukasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki cara berpikir dan pendekatan yang berbeda. Karena itu, pemimpin tidak seharusnya menuntut anggota tim mengambil keputusan yang sepenuhnya sama dengan dirinya.
“Karena tidak mungkin dia copy paste 100 persen seperti kita,” pungkas Jahja.
Baca Juga: Jahja Setiaatmadja: Kalau Sudah Sukses, Jangan Pernah Tinggi Hati