Jahjamenambahkan, berbagai bentuk godaan yang berpotensi menguji integritas tidak hanya terjadi di kantor pusat, tetapi juga dapat ditemukan di kantor cabang maupun unit kerja lainnya. Karena itu, organisasi perlu memiliki sikap tegas dalam menangani pelanggaran etika.
“Cobaan itu selalu ada, bukan hanya di kantor pusat, tetapi di cabang di mana pun ada,” kata Jahja.
Dipaparkan Jahja , menjaga integritas tidak cukup hanya dengan mengingatkan karyawan agar mematuhi aturan. Perusahaan juga harus menunjukkan keseriusan dalam menindak setiap pelanggaran yang terbukti terjadi.
Kata Jahja, ketegasan tersebut pun menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan sekaligus memastikan nilai-nilai etika benar-benar diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari.
“Tetapi kita berusaha tegas, Pak. Kalau sampai ada ketahuan kasus-kasus seperti itu, ya harus bye-bye,” tegasnya.
Lebih lanjut, Jahja menilai, keteladanan pemimpin menjadi kunci dalam membangun budaya kerja yang berintegritas. Menurutnya, pemimpin tidak bisa hanya memberikan arahan atau menuntut bawahannya untuk bersikap jujur, sementara perilakunya sendiri tidak mencerminkan nilai-nilai tersebut.
“Paling utama walk the talk. Para pemimpin itu kalau ngomong lakukan apa yang dia kerjakan, bukan hanya ngomong doang,” ungkapnya.
Jahja juga mengingatkan bahwa perilaku seorang pemimpin dapat menjadi acuan bagi anggota tim dalam bertindak. Ketika pemimpin konsisten menunjukkan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai perusahaan, karyawan akan memiliki contoh nyata untuk diikuti.
“Hal-hal seperti itu patut kita kerjakan sendiri. Harus beri contoh. Kalau itu dicontoh, jadi semua orang akan copy paste apa yang kita lakukan,” tandas Jahja.
Baca Juga: Jahja Setiaatmadja Bicara Leadership: Saat Gagal, Leader Harus Pasang Badan