Etika dan integritas menjadi fondasi penting dalam membangun budaya kerja yang sehat dan profesional. Namun, menjaga prinsip tersebut bukan perkara mudah, terutama ketika godaan untuk menyimpang dari aturan muncul dalam berbagai bentuk.
Dalam situasi ini, pemimpin memiliki peran penting untuk memastikan nilai-nilai integritas tidak hanya menjadi slogan, tetapi juga diterapkan dalam setiap tindakan.
Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, menegaskan bahwa salah satu cara utama menjaga etika dan integritas di lingkungan kerja adalah dengan menerapkan prinsip walk the talk.
Artinya, kata Jahja, seorang pemimpin harus mampu menyelaraskan perkataan dengan tindakan nyata, sekaligus menjadi contoh bagi orang-orang yang dipimpinnya.
Menurut Jahja, godaan yang berpotensi mengganggu integritas dapat muncul di berbagai lini organisasi, termasuk dalam proses pengambilan keputusan bisnis.
Ia menceritakan pengalamannya saat awal berkarier dan bertugas sebagai pemutus kredit. Kala itu, ia kerap menghadapi berbagai upaya yang dapat memengaruhi keputusan pemberian kredit kepada perusahaan tertentu.
“Dulu waktu awal-awal karya bakti saya, jadi pemutus kredit itu banyak yang iming-iming harusnya perusahaan ini enggak dapat kredit, tapi ini ada sesuatu bisa dapat kredit jadinya,”tutur Jahja, sebagaimana Olenka kutip dari akun OJK, Selasa 13/10/2026).
Meski menghadapi situasi tersebut, Jahja menekankan pentingnya menjaga objektivitas dalam mengambil keputusan. Ia pun memilih memberikan kepercayaan kepada tim untuk meninjau kembali pengajuan kredit berdasarkan pertimbangan yang tepat, bukan karena adanya kepentingan tertentu.
“Nah, saya bilang, oh sorry, saya selalu percayakan pada anak buah saya kalau memang itu bagus silakan kita review lagi, terakhir baru diputus. Jadi enggak ada yang seperti itu,” tuturnya.
Baca Juga: Jahja Setiaatmadja Ungkap Tantangan Mendelegasikan Tugas kepada Tim
Jahjamenambahkan, berbagai bentuk godaan yang berpotensi menguji integritas tidak hanya terjadi di kantor pusat, tetapi juga dapat ditemukan di kantor cabang maupun unit kerja lainnya. Karena itu, organisasi perlu memiliki sikap tegas dalam menangani pelanggaran etika.
“Cobaan itu selalu ada, bukan hanya di kantor pusat, tetapi di cabang di mana pun ada,” kata Jahja.
Dipaparkan Jahja , menjaga integritas tidak cukup hanya dengan mengingatkan karyawan agar mematuhi aturan. Perusahaan juga harus menunjukkan keseriusan dalam menindak setiap pelanggaran yang terbukti terjadi.
Kata Jahja, ketegasan tersebut pun menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan sekaligus memastikan nilai-nilai etika benar-benar diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari.
“Tetapi kita berusaha tegas, Pak. Kalau sampai ada ketahuan kasus-kasus seperti itu, ya harus bye-bye,” tegasnya.
Lebih lanjut, Jahja menilai, keteladanan pemimpin menjadi kunci dalam membangun budaya kerja yang berintegritas. Menurutnya, pemimpin tidak bisa hanya memberikan arahan atau menuntut bawahannya untuk bersikap jujur, sementara perilakunya sendiri tidak mencerminkan nilai-nilai tersebut.
“Paling utama walk the talk. Para pemimpin itu kalau ngomong lakukan apa yang dia kerjakan, bukan hanya ngomong doang,” ungkapnya.
Jahja juga mengingatkan bahwa perilaku seorang pemimpin dapat menjadi acuan bagi anggota tim dalam bertindak. Ketika pemimpin konsisten menunjukkan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai perusahaan, karyawan akan memiliki contoh nyata untuk diikuti.
“Hal-hal seperti itu patut kita kerjakan sendiri. Harus beri contoh. Kalau itu dicontoh, jadi semua orang akan copy paste apa yang kita lakukan,” tandas Jahja.
Baca Juga: Jahja Setiaatmadja Bicara Leadership: Saat Gagal, Leader Harus Pasang Badan