Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, FINASIM., menegaskan bahwa stroke sebenarnya dapat dicegah melalui penerapan gaya hidup sehat secara konsisten.
Menurutnya, langkah pencegahan stroke tidak jauh berbeda dengan upaya mencegah penyakit jantung, kepikunan, hingga komplikasi diabetes.
“Untuk mencegah timbulnya stroke, sebetulnya sudah kita bahas berulang-ulang waktu membahas mengenai bagaimana mencegah timbulnya sakit jantung, bagaimana upaya mencegah munculnya pikun, dan bagaimana upaya mencegah komplikasi sakit kencing manis. Semuanya itu faktor-faktornya hampir sama,” jelas Prof. Zubairi, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Senin (11/52026).
Prof. Zubairi menegaskan bahwa pola makan sehat menjadi fondasi utama dalam mencegah stroke.
Konsumsi sayur dan buah secara rutin dinilai sangat penting untuk menjaga kesehatan pembuluh darah dan menurunkan risiko berbagai penyakit kronis.
“Usahakan sayur 2–3 kali sehari. Buah juga sama, 2–3 kali sehari. Itu tidak mudah. Namun kalau Anda ingin mencegah stroke, itu perlu banget,” katanya.
Selain menjaga pola makan, aktivitas fisik juga menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan.
Prof. Zubairi pun menyarankan masyarakat untuk rutin bergerak setidaknya 150 menit dalam seminggu. Namun ia menilai olahraga tidak harus selalu dilakukan dalam bentuk aktivitas berat.
“Saya selalu sampaikan bahwa usahakan 150 menit seminggu. Namun kalau olahraga itu menjadi istilah yang memberatkan kita, ganti saja. Asal jalannya ke mana pun agak cepat, minimal setengah jam sehari sudah cukup,” jelasnya.
Menurut Prof. Zubairi, kebiasaan berjalan cepat selama 30 menit setiap hari sudah memberikan manfaat besar dalam menurunkan risiko stroke.
“Jadi jalan agak cepat setengah jam sehari, atau minimal 150 menit seminggu, itu sudah cukup untuk mencegah stroke,” tambahnya.
Baca Juga: Benarkah Vitamin Selalu Aman? Dokter Ahli Ingatkan Risiko Konsumsi Berlebihan
Prof. Zubairi juga menyoroti tingginya kasus hipertensi pada kelompok usia lanjut. Ia menyebut tekanan darah tinggi sebagai salah satu faktor risiko terbesar penyebab stroke.
“Penting banget untuk yang usia di atas 60 tahun. Itu dua per tiga ada darah tinggi. Dan darah tinggi memudahkan timbulnya stroke,” ungkapnya.
Karena itu, penderita hipertensi diminta disiplin menjalani pengobatan jangka panjang sesuai anjuran dokter.
“Seringkali hampir semuanya memerlukan obat darah tinggi seumur hidup,” katanya.
Tak hanya itu, ia juga mengingatkan pentingnya menghentikan kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol karena keduanya dapat meningkatkan risiko stroke secara signifikan.
“Merokok itu memudahkan timbulnya stroke. Demikian pula minum alkohol,” tegas Prof. Zubairi.
Bagi masyarakat yang memiliki penyakit penyerta seperti diabetes atau gangguan irama jantung, termasuk fibrilasi atrium, Prof. Zubairimenekankan agar pengobatan dilakukan secara tepat dan teratur.
“Kalau ada kencing manis, ya harus diobati dengan baik dan benar. Kalau ada gangguan irama jantung, misalnya ada fibrilasi atrium, itu mudah menimbulkan stroke. Juga harus diobati dengan baik dan benar,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. Zubairi pun kembali mengingatkan pentingnya komunikasi yang baik antara pasien dan dokter agar penanganan penyakit dapat berjalan optimal.
“Karena itu komunikasi kita kalau berobat ke dokter harus baik dengan dokternya. Dan harus berani kita bertanya agar mendapatkan manfaat yang terbaik dan kejelasan, supaya kita bisa bebas stroke,” ujarnya.
Ia pun menegaskan bahwa stroke bukanlah penyakit yang tidak bisa dihindari.
“Stroke bisa dicegah,” tutup Prof. Zubairi.
Baca Juga: Benarkah Hubungan Intim Bisa Picu ISK? Ini Penjelasan Dokter Ahli