PT Agrinas Pangan Nusantara tetap mengimpor mobil pikap dari India kendati pengadaan kendaraan niaga untuk menunjang Program Koperasi Merah Putih ditentang keras berbagai pihak. 

Saat ini PT Agrinas Pangan Nusantara telah menyetor uang muka atau atau down payment (DP) sebesar 30 persen dalam proyek pengadaan 105.000 unit pikap dari India tersebut. 

Baca Juga: Impor Pikap dari India Tiba di Jakarta, Harga Per Unit Masih Dirahasiakan Bos Agrinas

Adapun total nilai kontrak pengadaan kendaraan roda empat itu mencapai Rp24,66 triliun, dalam pengadaan yang dilakukan PT Agrinas Pangan Nusantara menandatangani kontrak bersama dua perusahaan otomotif terkemuka di India yakni Mahindra & Mahindra (M&M) Ltd dan Tata Motors. Kontrak telah diteken pada 23 Desember 2025 lalu.

"Oleh karena itu kami harus memberikan down payment 30% dan itu sudah kami lakukan untuk semua produk yang kami beli," kata Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota dilansir Kamis (25/2/2026). 

Banyak pihak yang keberatan mengenai impor tersebut, impor itu dinilai hanya melemahkan industri otomotif dalam negeri. 

Terkait risiko penalti yang dikenakan jika kontrak itu dibatalkan, Joao mengaku pihaknya belum memikirkan hal tersebut, itu artinya  PT Agrinas Pangan Nusantara sangat percaya diri bahwa agenda impor mobil pikap itu bakal berjalan mulus. 

"Karena kami dengan itikad baik, kami tidak pernah memikirkan penalti pembatalan tersebut. Saya pikir bahwa kita optimistis dan saya yakin bahwa apa yang kita lakukan in good faith pasti kalau ada masalah ada pemahaman yang kurang tepat atau tidak sama itu mungkin hanya perlu ada penjelasan itu akan menjadi solusi," tegasnya.

Lebih lanjut, Joao mengatakan pengadaan ratusan ribu armada pikap itu jelas sangat menguntungkan Indonesia lantaran harga yang didapat sangat murah jika dibandingkan dengan kendaraan yang sama yang dikeluarkan pabrikan Jepang yang ditaksir tembus Rp200 juta per unit. 

Baca Juga: Mengenal Sosok Joao Angelo De Sousa Aktivis Timor-Timur yang Jadi Dirut Agrinas Pangan Nusantara

"Karena saya yakin bahwa semua itu ada solusinya mungkin kalau saya ngadainnya harganya Rp700 juta mungkin pasti potensi pembatalan sangat besar tapi kalau saya ngadainnya murah kayaknya sayang-sayang banget," pungkasnya.