Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Jimly Asshiddiqie merespons isu yang menyebut Presiden Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi) saat ini telah pecah kongsi.

Jimly dengan tegas membantah itu. Menurutnya hubungan Prabowo-Jokowi selama ini berlangsung harmonis, tak ada keretakan di antara mereka, sebab Prabowo merupakan kepala negara yang selama ini ingin merangkul semua pihak termasuk pihak-pihak yang selama ini diasosiasikan sebagai musuhnya. 

Baca Juga: Anak Buah Kaesang Bongkar Kelakuan Syahganda Nainggolan: Anda Dulu Pernah Bilang Pak Prabowo Maling Kundang!

"Kalau ada analisa bahwa ini adalah tanda-tanda pecah kongsi antara Hambalang (Prabowo) dan Solo (Jokowi), menurut saya enggak begitu. Karena Prabowo ini mau merangkul semua," kata Jimly dilansir Olenka.id Kamis (22/10/2026). 

Alih-alih berbagi jalan, Prabowo-Jokowi kata Jimly saat ini saling merangkul erat, mereka saling menjaga dan merawat hubungan itu, jangan sampai salah satu diantara mereka keluar mencari jalannya sendiri. Jimly kembali menegaskan bahwa isu pecah kongsi itu sama sekali tidak betul. 

"Semangat Presiden Prabowo ini merangkul semua orang yang berbeda. Jokowi itu dijaga supaya jangan keluar. Praktik (kepemimpinan) berganti, tapi bukan diberhentikan, malah semakin dekat ke istana," jelas Jimly. 

Jimly mengatakan analisa sejumlah pakar politik yang menyebut Prabowo-Jokowi pecah kongsi datang dari kelompok yang selama ini dikenal sebagai kelompok anti Jokowi. Mereka kata Jimly bakal semakin sakit hati menyaksikan keharmonisan hubungan Prabowo-Jokowi yang saat ini sangat terawat dengan baik.  

"Nanti orang-orang yang anti-Jokowi makin sakit hati dia kan, pusing nih. Kiralogi (analisa kira-kiranya) makin rusak. Padahal niatnya Prabowo memang dia merangkul semua," ujarnya.

Jimly menandaskan bahwa gaya kepemimpinan merangkul ini sengaja diterapkan oleh Presiden Prabowo guna meminimalisasi potensi kegaduhan politik di awal masa jabatannya.

Baca Juga: Rocky Gerung Soal Dua Tahun Prabowo-Gibran: Pokoknya Sip!

Pendekatan ini sekaligus mengonfirmasi bahwa Kabinet Merah Putih mengedepankan asas keberlanjutan dan konsolidasi ketimbang politik saling jegal antar-elite nasional.