Growthmates, perbedaan cara pandang terhadap kegagalan kerap menjadi salah satu hal yang membedakan karakter antargenerasi. Apa yang dianggap sebagai kegagalan serius oleh satu generasi, belum tentu dipandang sebagai persoalan besar oleh generasi lainnya.
Fenomena tersebut, menurut Guru Besar Kepemimpinan Bisnis di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Donald Crestofel Lantu, S.T., MBA., Ph.D., dapat terbentuk dari pengalaman serta pola yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Donald melihat, generasi yang lebih muda seperti Generasi Z dapat memiliki pandangan berbeda terhadap kegagalan karena menyaksikan bagaimana generasi sebelumnya menghadapi kesalahan dan kegagalan.
Ketika mereka melihat generasi X atau baby boomers cenderung bertahan dan enggan mengakui kegagalan atau mundur dari posisi, pengalaman tersebut bisa membentuk persepsi tersendiri pada generasi setelahnya.
“Kalau saya lihat fenomena-fenomena itu kan seringkali kita memang kontras itu terjadi karena memang misalnya kita menganggap Gen C yang mereka melihat kenapa Gen X atau baby boomers itu mungkin orang tuanya atau kakeknya, pada saat gagal mereka tidak mau mengakui, tidak mau mundur,” papar Donald, saat ditemui Olenka, belum lama ini.
Donald menuturkan, sikap generasi terdahulu tersebut kemudian bisa dikritisi oleh generasi berikutnya.
Secara sadar maupun tidak sadar, kata dia, mereka dapat membentuk asumsi bahwa ketika menghadapi kegagalan, mengambil langkah mundur bukanlah sesuatu yang harus selalu dihindari.
“Sehingga secara sadar atau tidak sadar mereka kemudian membuat asumsi di dalam dirinya bahwa saya kalau gagal saya akan mundur. Nah, apakah itu kemudian terjadi semacam mekanisme psikologi seperti itu sehingga kemudian mereka, ya, it's okay membuat salah, bukan sesuatu yang sifatnya big deal,” jelasnya.
Dengan kata lain, perbedaan tersebut tidak selalu dapat dipahami hanya sebagai persoalan karakter atau etos kerja suatu generasi. Ada proses sosial dan psikologis yang ikut membentuk cara seseorang memandang keberhasilan, kegagalan, hingga keputusan untuk bertahan atau mundur.
Donald menilai, fenomena semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Dalam sejarah, perubahan karakter kepemimpinan juga kerap bergerak secara kontras.
Ketika masyarakat merasa tidak puas terhadap satu gaya kepemimpinan, lanjut Donald, mereka cenderung mencari karakter kepemimpinan yang berbeda sebagai respons terhadap pengalaman sebelumnya.
“Kalau kita lihat sebenarnya sih nggak ada yang baru. Di dalam sejarah itu pasti jika misalnya dulu pemimpinnya lebih otoriter, kalau kita lihat pemimpinan negara, tapi kemudian karena rakyat tidak suka dengan kekurangan dari pemimpin yang otoriter, mereka akan mencari sifat yang berbeda banget dari pemimpin yang otoriter,” tuturnya.
Baca Juga: Mengenal Sosok Donald Crestofel Lantu, Guru Besar SBM ITB
Lebih jauh, Donald mencontohkan, masyarakat yang sebelumnya menghadapi pemimpin dengan gaya otoriter bisa saja kemudian menginginkan sosok yang lebih keibuan dan penuh pendekatan emosional.
Namun, ketika gaya tersebut juga memperlihatkan kelemahan tertentu, masyarakat kembali mencari figur dengan karakter yang lebih kuat dan tegas.
“Pemimpin yang keibuan, misalnya. Nah, nanti kemudian pada saat mereka mengalami pemimpin yang keibuan, ada hal-hal yang negatif, mereka akan mencari pemimpin yang lebih strong, yang mungkin sangat tegas. Akhirnya kita dapat yang otoriter,” kata Donald.
Menurut Donald, pola tersebut menunjukkan bahwa perjalanan sejarah sering kali diwarnai pergantian karakter yang berlawanan. Masyarakat maupun generasi baru belajar dari pengalaman generasi sebelumnya, kemudian membentuk preferensi dan nilai yang berbeda.
“Jadi sejarah itu kan seperti itu ya, pergantian antara berbagai hal yang kemudian ekstrem ini yang kemudian mewarnai,” ujarnya.
Pola serupa, lanjut Donald, sangat mungkin terjadi dalam hubungan antargenerasi. Generasi X, Generasi Z, hingga generasi yang lahir setelahnya dapat memiliki respons yang berbeda terhadap nilai-nilai dan pola yang mereka warisi dari generasi sebelumnya.
“Generasi X dan juga mungkin Generasi Z pasti ada dinamika yang seperti itu, bisa terjadi sehingga kita bisa memahami apa yang mungkin terjadi dengan generasi berikutnya nanti,” jelasnya.
Ia bahkan memperkirakan Generasi Alpha dapat membawa respons baru terhadap persoalan yang sebelumnya muncul pada Generasi X maupun baby boomers.
Artinya, karakter suatu generasi tidak berdiri sendiri, melainkan terus terbentuk melalui proses belajar, kritik, dan respons terhadap pengalaman generasi sebelumnya.
“Setelah Generasi Z, Generasi Alpha bisa jadi mempelajari kesalahan yang dilakukan di generasi baby boomers atau Generasi X,” pungkas Donald.
Baca Juga: Belajar dari Kesuksesan Amazon, Guru Besar SBM ITB Ungkap Kunci Transformasi Bisnis yang Tepat