Growthmates, banyak orang masih menganggap kanker usus besar atau kanker kolorektal sebagai penyakit yang hanya menyerang lansia. Padahal, tren terbaru menunjukkan kondisi ini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda, bahkan mereka yang masih berusia 30-an tahun.
Fakta tersebut diungkapkan oleh dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, MD, Ph.D. Ia menceritakan pengalamannya saat menemui seorang pasien muda yang ternyata didiagnosis kanker usus besar setelah sebelumnya mengira keluhannya hanyalah ambeien.
"Saya lihat tanggal lahirnya, wah enggak jauh sama saya. Umurnya masih 30-an tahun,” tutur dr. Adam, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Senin (23/6/2026).
Dikatakan dr. Adam, awalnya, pasien tersebut datang tanpa keluhan yang tampak serius. Selama hampir dua tahun, ia hanya mengalami gangguan buang air besar yang datang dan pergi.
"Keluhannya itu cuma BAB kadang cair, kadang padat, terus suka ada darah tipis-tipis. Dipikirnya ambeien. Bahkan waktu ke dokter pertama kali juga diduga ambeien," kata dr. Adam.
Menurut dr. Adam, kebetulan pasien tersebut memang memiliki ambeien sehingga keluhannya semakin dianggap wajar. Namun ,ketika dilakukan pemeriksaan kolonoskopi, hasilnya menunjukkan adanya kanker pada usus besar.
"Pas diteropong dari bawah, namanya kolonoskopi, ternyata ada kankernya. Barulah ketahuan dari situ dan mulai menjalani pengobatan, kemoterapi, dan lain-lain," lanjutnya.
dr. Adam melanjutkan, fenomena ini bukan kasus yang berdiri sendiri. Berbagai penyakit tidak menular, termasuk kanker, diabetes, dan hipertensi, kini menunjukkan tren peningkatan pada kelompok usia yang lebih muda.
"Itu lagi naik banget. Penyakit tidak menular seperti kanker, diabetes, darah tinggi memang trennya meningkat dan mulai bergeser ke usia yang lebih muda," jelasnya.
Sejumlah penelitian internasional juga menunjukkan bahwa kejadian kanker usus besar pada individu berusia di bawah 50 tahun terus meningkat.
Bahkan, lanjut dia, diperkirakan pada tahun 2030, sekitar 11 persen kasus kanker kolon dan 23 persen kanker rektum akan terjadi pada kelompok usia di bawah 50 tahun.
Dijelaskan dr. Adam, sebagian kasus memang berkaitan dengan faktor genetik. Sekitar 30 persen pasien kanker usus besar usia muda memiliki mutasi genetik tertentu, sementara 20 persen lainnya mempunyai riwayat keluarga dengan kanker usus besar.
Namun, yang menjadi perhatian para ahli adalah sekitar 50 persen kasus sisanya tidak memiliki faktor genetik maupun riwayat keluarga.
"Ini artinya ada faktor lain yang belum sepenuhnya kita pahami, dan kemungkinan besar berkaitan dengan gaya hidup," ujar dr. Adam.
Baca Juga: Benarkah Hasil General Check Up Normal Berarti Bebas Kanker? Ini Kata Dokter Ahli
Gaya Hidup Diduga Menjadi Pemicu
dr. Adam memaparkan, berbagai faktor seperti obesitas, sindrom metabolik, pola makan yang kurang sehat, serta minim aktivitas fisik diduga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kanker usus besar pada usia muda.
Karena itu, kata dia, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, serta menerapkan pola makan yang seimbang menjadi langkah penting yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko.
Selain itu, dr. Adam menekankan pentingnya melakukan skrining sesuai rekomendasi medis.
"Saya sendiri waktu umur 40 tahun akhirnya kolonoskopi juga. Memang sekarang rekomendasi skrining sudah mulai diturunkan usianya karena kasus pada usia muda makin banyak ditemukan," ungkapnya.
Lebih lanjut, dr. Adam menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam mendeteksi kanker usus besar adalah gejalanya yang sering kali tidak spesifik. Dikatakannya, banyak orang menganggapnya hanya gangguan pencernaan biasa.
Adapun gejala kanker usus besar yang perlu diwaspadai antara lain diare yang berlangsung terus-menerus, sembelit berkepanjangan, nyeri atau rasa tidak nyaman di perut, perubahan pola buang air besar, hingga buang air besar (BAB) berdarah. Selain itu, penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas juga dapat menjadi tanda yang tidak boleh diabaikan.
Sayangnya, lanjut dr. Adam, gejala-gejala tersebut sering disalahartikan sebagai ambeien, stres, atau sekadar efek dari makanan tertentu.
"Kanker usus besar sering kali dianggap enteng dan tidak diperiksakan. Gejalanya dikira ambeien, dikira stres, atau bahkan hanya salah makan," kata dr. Adam.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami keluhan yang berlangsung selama beberapa minggu.
"Kalau Anda atau orang-orang di sekitar Anda, berapa pun usianya, punya gejala-gejala seperti ini yang berlangsung lebih dari beberapa minggu, tolong banget jangan diabaikan. Segera periksa ke dokter," tegasnya.
Menurut dr. Adam, deteksi dini merupakan kunci utama dalam meningkatkan peluang kesembuhan pasien kanker usus besar.
"Semakin awal kanker kolon didiagnosis, semakin besar juga peluangnya untuk sembuh," pungkasnya.
Baca Juga: Waspada Saraf Kejepit! Dokter Orthopedi Beberkan Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegahnya