Eksplorasi material juga menjadi bagian penting dari koleksi ini. Penggunaan material berbasis plastik daur ulang sejalan dengan upaya FUGUKU mempertahankan nilai keberlanjutan dalam proses pengembangan produknya.

Namun, Savirra mengakui pencarian material yang sesuai dengan kebutuhan desain sekaligus memiliki pertimbangan lingkungan menjadi salah satu tantangan dalam proses produksi.

“Tantangan pastinya terutama di bagian produksi dan sourcing material. Karena memang mencari material yang saya inginkan, yang ada dampak lingkungan, maksudnya terbuat dari recycled plastic, itu kan nggak mudah untuk menemukan kain yang saya inginkan,” ungkapnya.

Bagi FUGUKU, lanjut Savirra, keberlanjutan tidak hanya diterapkan melalui pemilihan material. Brand ini juga berupaya menggunakan pendekatan zero waste pattern dalam pembuatan produknya.

“Kalau FUGUKU itu memang kita terlahir dengan nilai itu, nilai keberlanjutan. Itu yang kita berupaya untuk lakukan. Jadi dari segi material, dari segi pola kita sebisa mungkin zero waste pattern dan sebisa mungkin terbuat dari limbah plastik,” kata Savirra.

Nilai tersebut juga berjalan beriringan dengan pemberdayaan perajin. Produk FUGUKU dibuat secara manual oleh para perajin di Jakarta, yang sebagian besar merupakan perempuan dan ibu yang memiliki tanggung jawab mengurus keluarga.

“Produk FUGUKU ini semuanya itu terbuat dari tangan. Yang membuatnya ini pengrajin-pengrajin di Jakarta, latar belakangnya ibu-ibu dan ibu-ibu ini juga punya anak,” jelas Savirra.

"Dibuat dengan penuh kesadaran dari poliester daur ulang, setiap karya membawa keahlian dan kisah lebih dari 70 perempuan perajin di perkampungan urban Jabodetabek," sambungnya.

Menurut Savirra, sistem pengerjaan dari rumah memberikan ruang bagi para perajin untuk tetap berkarya sekaligus menjalankan aktivitas keluarga.

“Jadi aktivitas untuk kerajinan ini sangat membantu mereka, di mana mereka bisa mengerjakan produk FUGUKU ini dari rumah. Jadi ini sangat mendukung keseharian mereka untuk merawat anak-anak dan untuk tetap menjaga kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.

Selain lini ready-to-wear, peluncuran GROUND ZERO juga membawa lini tas dan aksesori. FUGUKU memperkenalkan Aikido Hobo Web, tas berukuran lebih besar yang dapat digunakan untuk membawa laptop. Desainnya terinspirasi dari belt pada kimono Aikido.

“Detailnya terinspirasi dari belt-nya Aikido, Aikido kimono itu. Itu juga lumayan something new karena kita belum pernah sebelumnya bikin tas yang sebesar tas laptop. Dan ini buat tas laptop. Jadi dari segi fungsi juga sudah berbeda dengan tas FUGUKU sebelumnya,” ungkap Savirra.

FUGUKU juga menghadirkan body wrap, berupa kain multifungsi yang dapat dikenakan dengan berbagai cara, termasuk sebagai scarf maupun obi. Seluruh lini tersebut tetap membawa pendekatan unisex yang menjadi karakter FUGUKU.

Kemudian, Savirra memaparkan bahwa peluncuran GROUND ZERO tidak hanya menjadi momen untuk memperkenalkan koleksi baru, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang mempertemukan mode, kriya, dan musik.

Pengunjung diajak mengenal koleksi secara lebih dekat melalui lokakarya taktil di dalam toko, sehingga dapat melihat, menyentuh, dan merasakan langsung tekstur serta karakter material yang menjadi bagian penting dari GROUND ZERO.Pengalaman tersebut turut didukung oleh F&B partners, Doré by LeTAO dan %ARABICA.

Kehadiran GROUND ZERO sekaligus menjadi langkah FUGUKU untuk memperluas jangkauan pasar. Dengan desain yang lebih kasual dan fungsional, koleksi ini diharapkan dapat memperkenalkan FUGUKU kepada konsumen baru tanpa meninggalkan eksplorasi bentuk dan tekstur yang menjadi identitas brand.

“Untuk ini kita sengaja untuk memperluas market kita dengan adanya koleksi ini. Karena kita yakin dengan adanya ready-to-wear line ini, ini bakal bisa menjangkau market yang baru,” ujar Savirra.

Fyi, koleksi GROUND ZERO ini tersedia di PILLAR, Plaza Indonesia. Sejumlah produk juga dapat diperoleh secara daring maupun melalui stokis FUGUKU, sementara beberapa produk tertentu hanya tersedia di PILLAR.

Bagi Savirra, peluncuran ini menjadi salah satu langkah untuk membawa FUGUKU kepada audiens yang lebih luas sekaligus membuka peluang bagi brand untuk berkembang ke pasar global.

“Harapannya sih market FUGUKU terus berkembang, bisa diterima masyarakat yang lebih luas lagi dan bisa mengglobal,” pungkasnya.

Baca Juga: PURANA Rayakan 17 Tahun lewat Renjana Perca, Dorong Ekonomi Sirkular dan Sustainable Fashion