Ligwina juga mengingatkan bahwa tidak ada yang benar-benar mengetahui seperti apa kondisi keuangan di masa depan. Besarnya rezeki dan kebutuhan seseorang di kemudian hari bisa berbeda dengan kondisi saat ini.

Karena itu, kata dia, uang yang dimiliki hari ini idealnya tidak hanya dipikirkan untuk kebutuhan sekarang, tetapi juga masa depan.

“Rezekinya tuh kita nggak tahu sekarang sama nanti tuh akan sebesar apa. Maka uang yang ada sekarang harus dipakai hari ini dan nanti,” imbuh Ligwina.

Dengan perspektif tersebut, menabung bukan berarti seseorang harus berhenti menikmati hasil kerja atau menghilangkan kesenangan dari kehidupan sehari-hari.

Menabung justru menjadi cara untuk membagi fungsi uang agar kebutuhan saat ini dan masa depan sama-sama mendapat perhatian.

Kemudian, Ligwina menekankan bahwa kebiasaan menabung sebaiknya dilakukan dengan kesadaran, bukan karena tekanan atau sekadar mengikuti nasihat keuangan yang sudah umum didengar.

“Menabung itu dengan kesadaran penuh, tanpa dipaksa. Bukan juga karena katanya orang hemat pangkal kaya, bukan,” tuturnya.

Bagi Ligwina, yang lebih penting adalah memahami tujuan di balik uang yang disisihkan. Ketika seseorang mengetahui bahwa uang tersebut memang sengaja dipersiapkan untuk kebutuhan tertentu di masa depan, aktivitas menabung akan terasa lebih selaras dengan kebutuhan dan tujuan hidupnya.

“Tapi, karena tahu bahwa uang yang hari ini dipakai itu udah diniatkan dipakai untuk kebutuhan lain di masa depan,” tandasnya.

Baca Juga: Freelancer Sulit Menabung Dana Pensiun? Ini Tips dari Financial Trainer