“Pernah ngitung nggak sih, Mbak, kayak berapa? Satu anak 18 tahun. Itu sudah hampir pasti lebih dari Rp3 miliar in total ya. Tapi kita bicara ini karena saya tinggalnya di Jakarta. Mungkin kalau kita tinggal di kota lain itu angkanya akan berbeda,” jelasnya.
Prita juga memberikan konteks berdasarkan pengalamannya sebagai orang tua. Anak pertamanya telah memasuki jenjang kuliah di perguruan tinggi negeri melalui program internasional dan kemudian melanjutkan pendidikan di Melbourne, Australia.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa perencanaan biaya anak tidak cukup hanya memperhitungkan kebutuhan saat ini. Orang tua juga perlu mempertimbangkan kemungkinan pendidikan lanjutan, termasuk jika anak ingin menempuh studi di luar negeri yang membutuhkan anggaran berbeda.
Karena itu, Prita menekankan bahwa kesiapan memiliki anak perlu dibangun melalui perencanaan finansial yang realistis.
Menurutnya, pasangan sebaiknya memperhitungkan kemampuan pendapatan, pengeluaran rumah tangga, dana pendidikan, serta kebutuhan jangka panjang lainnya sebelum mengambil keputusan.
Ia juga mengingatkan bahwa persiapan menjadi orang tua tidak bisa hanya mengandalkan satu indikator, seperti nilai rapor atau prestasi akademik anak. Ada berbagai aspek kebutuhan dan masa depan anak yang perlu dipikirkan sejak awal.
“Jadi emang orang tua tuh bener-bener mesti siap banget tuh buat punya anak di umur 30,” pungkasnya.
Baca Juga: Tips Agar Gaji Tidak 'Bocor Halus' Setiap Bulan Menurut Financial Planner