Growthmates, memasuki usia 30 tahun, biasanya seseorang dihadapkan pada berbagai tantangan kehidupan, mulai dari membangun keluarga hingga mempersiapkan masa depan finansial. Salah satu keputusan besar yang membutuhkan perencanaan matang adalah memiliki anak, mengingat biaya pengasuhan dan pendidikan yang harus dipenuhi hingga anak mampu mandiri.

Financial Planner sekaligus CEO & Principal Consultant Zap Finance, Prita Hapsari Ghozie, SE, MCom, GCertFP, menyoroti pentingnya kesiapan finansial bagi pasangan yang berencana memiliki anak.

Menurutnya, membesarkan anak bukanlah tanggung jawab yang sebentar, melainkan komitmen jangka panjang yang membutuhkan persiapan ekonomi secara menyeluruh.

“Di umur 30, menurut aku tantangan terbesarnya itu adalah kita ditakdirkan udah nikah, membesarkan anak itu tidak murah,” terang Prita, sebagaimana Olenka kutip dari Instagram @unscriptedbytheresa, Selasa (20/10/2026).

Prita menilai, besarnya tanggung jawab finansial tersebut menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan oleh pasangan sebelum memutuskan untuk memiliki anak.

Tidak sedikit orang yang memilih menunda pernikahan atau berpikir lebih matang sebelum mempunyai anak karena menyadari besarnya biaya yang harus disiapkan.

Lebih jauh, Prita pun mengingatkan bahwa tanggung jawab orang tua tidak berhenti ketika anak lahir. Kebutuhan anak akan terus berkembang, mulai dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari, kesehatan, hingga pendidikan, selama bertahun-tahun sampai mereka dapat hidup mandiri.

“Sekarang orang tuh menunda menikah, atau kalau udah menikah juga mikir banget gitu mau punya anak. Karena memang satu anak itu tanggung jawabnya 18 tahun loh, sampai dia bisa mandiri,” katanya.

Menurut Prita, biaya membesarkan satu anak selama 18 tahun bahkan dapat mencapai lebih dari Rp3 miliar. Namun, angka tersebut perlu dipahami berdasarkan konteks tempat tinggal dan kebutuhan keluarga, sehingga tidak bisa disamaratakan untuk semua orang.

Baca Juga: Financial Planner Ungkap Tanda-tanda Trauma Finansial yang Sering Tak Disadari, Apa Saja?

“Pernah ngitung nggak sih, Mbak, kayak berapa? Satu anak 18 tahun. Itu sudah hampir pasti lebih dari Rp3 miliar in total ya. Tapi kita bicara ini karena saya tinggalnya di Jakarta. Mungkin kalau kita tinggal di kota lain itu angkanya akan berbeda,” jelasnya.

Prita juga memberikan konteks berdasarkan pengalamannya sebagai orang tua. Anak pertamanya telah memasuki jenjang kuliah di perguruan tinggi negeri melalui program internasional dan kemudian melanjutkan pendidikan di Melbourne, Australia.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa perencanaan biaya anak tidak cukup hanya memperhitungkan kebutuhan saat ini. Orang tua juga perlu mempertimbangkan kemungkinan pendidikan lanjutan, termasuk jika anak ingin menempuh studi di luar negeri yang membutuhkan anggaran berbeda.

Karena itu, Prita menekankan bahwa kesiapan memiliki anak perlu dibangun melalui perencanaan finansial yang realistis.

Menurutnya, pasangan sebaiknya memperhitungkan kemampuan pendapatan, pengeluaran rumah tangga, dana pendidikan, serta kebutuhan jangka panjang lainnya sebelum mengambil keputusan.

Ia juga mengingatkan bahwa persiapan menjadi orang tua tidak bisa hanya mengandalkan satu indikator, seperti nilai rapor atau prestasi akademik anak. Ada berbagai aspek kebutuhan dan masa depan anak yang perlu dipikirkan sejak awal.

“Jadi emang orang tua tuh bener-bener mesti siap banget tuh buat punya anak di umur 30,” pungkasnya.

Baca Juga: Tips Agar Gaji Tidak 'Bocor Halus' Setiap Bulan Menurut Financial Planner