Aktris Febby Rastanty dikenal sebagai salah satu figur publik yang aktif menjalani gaya hidup sehat. Belakangan, hobinya berlari bahkan membawanya mengikuti berbagai ajang marathon bergengsi di luar negeri.
Meski kini identik dengan dunia lari, istri Drajad Djumantara ini mengaku sudah menyukai olahraga tersebut sejak masih duduk di bangku kuliah, jauh sebelum tren lari berkembang pesat seperti sekarang.
"Aku memang sudah suka lari sejak kuliah. Waktu itu biasanya jogging santai sekitar lima kilometer di GBK. Kondisinya masih jauh lebih sepi dibanding sekarang karena tren lari belum sebesar saat ini," ujar Febby berbagi pengalamannya dalam agenda konferensi pers Head & Shoulders Super Cool Run 2026 di kawasan GBK, Sabtu (30/5/2026).
Diakui mantan personel group girl BLINK ini, lari menjadi olahraga yang paling sesuai dengan gaya hidupnya yang memiliki jadwal tidak menentu. Berbeda dengan olahraga lain yang membutuhkan pasangan bermain atau pemesanan lapangan, lari bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.
"Aku mulai lari secara benar dan mungkin lebih profesional lagi sejak 2023 karena saat itu mempersiapkan Tokyo Marathon. Sejak saat itu akhirnya ikut marathon selanjutnya, marathon selanjutnya, marathon selanjutnya," ujarnya.
Baca Juga: Head & Shoulders Indonesia Hadirkan Pengalaman Lari Unik Lewat Head & Shoulders Super Cool Run 2026
Febby menilai lari merupakan olahraga yang fleksibel dan memberinya kebebasan untuk menyesuaikan waktu latihan dengan aktivitas sehari-hari. Selain fleksibel, lari juga menjadi sarana baginya untuk menikmati waktu sendiri. Ia mengaku lebih sering berlari sendirian sambil mendengarkan musik atau podcast.
"Aku suka lari karena bisa menjadi me time. Saat lari, aku bisa berbicara dengan diri sendiri dan menikmati waktu untuk diri sendiri. Biasanya, aku lari sendiri sambil dengar lagu, kadang sambil ngobrol sama diri sendiri, atau dengar podcast. Itu memang benar-benar healing," tuturnya kepada awak media.

Febby mengaku mulai menjalani latihan lari secara lebih serius pada 2023 dengan bantuan pelatih dan program latihan yang terstruktur. Saat itu, ia mempersiapkan diri untuk mengikuti Tokyo Marathon yang menjadi marathon pertamanya.
"Saya mulai latihan lebih serius pada 2023. Mengikuti program latihan dan punya target tertentu. Marathon pertama saya adalah Tokyo Marathon," ungkapnya.
Pengalaman menyelesaikan Tokyo Marathon menjadi momen yang paling berkesan bagi Febby. Ia mengaku saat itu langsung jatuh cinta dengan olahraga lari dan mulai memasang target yang lebih besar.
Baca Juga: 7 Kesalahan yang Sering Dilakukan Pelari Pemula dan Cara Mengatasinya
"Setelah menyelesaikan Tokyo Marathon, i'm very very happy dan langsung berpikir bahwa saya harus ikut marathon berikutnya. Dari situ aku membuat target untuk menyelesaikan enam World Marathon Majors sebelum usia 30 tahun," katanya.
Selain pengalaman baru, marathon juga mengajarkannya banyak hal, terutama soal disiplin dan komitmen. "Pelajaran berharganya salah satunya mengatur waktu dan komitmen terhadap apa yang sudah dimulai. Kalau sudah masuk program marathon, ya harus komit sampai marathonnya selesai."
Kini, Febby tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti Sydney Marathon yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang. Ia pun masih menjalani program latihan secara rutin, termasuk lari dan strength training.
"Kalau sekarang, latihan 10 kilometer sudah masuk kategori easy run. Biasanya saya lari pada Selasa, Rabu, dan Jumat, lalu di akhir pekan menjalani long run. Selain itu juga harus dikombinasikan dengan latihan kekuatan atau strength training," tutupnya.