Indonesia merupakan salah satu pasar ekonomi digital terkuat di Asia Tenggara, bahkan dunia. Mengutip pernyataan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Viada Hafid, potensi ekonomi digital Indonesia diproyeksi menyentuh angka Rp35 triliun pada 2030. Salah satu pendorong utamanya ialah besarnya populasi masyarakat Indonesia.

Potensi tersebut juga disadari oleh Equinix, perusahaan infrastruktur digital global terkemuka yang menyediakan layanan pusat data kolokasi, interkoneksi, dan solusi manajemen infrastruktur. Bersama dengan PT Astra International Tbk, mereka membentuk usaha patungan untuk mengembangkan infrastruktur digital di Indonesia dengan kepemilikan modal saham 75 persen Equinix dan 25 persen Astra. Pada 15 Mei 2025 lalu, Equinix baru saja meresmikan pusat data pertamanya di Jakarta yang diberi nama "JK1”. Momen ini meneguhkan komitmen Equinix untuk ikut mengembangkan potensi ekonomi digital Tanah Air di tengah masifnya adopsi kecerdasan buatan (AI).

Baca Juga: Equinix Hadirkan Distributed AI dan Perkenalkan Fabric Intelligence

Deon Montasser, Sales Director of Equinix Indonesia, menegaskan, “Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan salah satu pasar digital dengan pertumbuhan tercepat di Asia Pasifik, Indonesia berada di pusat ekspansi data, cloud, dan AI di kawasan Asia Tenggara. Pertumbuhan tersebut menciptakan kebutuhan akan infrastruktur teknologi yang mumpuni.”

Kepatuhan Perlindungan Data dan Talenta Digital Lokal

Sebagai bagian dari ekosistem teknologi lokal, Equinix memastikan kepatuhan terhadap aturan perlindungan dan kedaulatan data nasional. Dijelaskan Deon, Equinix memastikan kedaulatan data melalui:

  • Hosting lokal untuk data dan beban kerja pelanggan di dalam Indonesia, termasuk opsi interkoneksi yang sepenuhnya terlokalisasi;
  • Kepatuhan terhadap regulasi KOMDIGI, OJK, dan sektor terkait, didukung oleh kerangka kepatuhan internal yang kuat;
  • Interkoneksi privat, memungkinkan perusahaan melewati internet publik dan memindahkan data sensitif secara aman;
  • Protokol keamanan fisik dan operasional yang ketat, termasuk kontrol akses berlapis, sistem pengawasan, dan tim operasional 24/7.

“Sebagai penyedia colocation, pelanggan selalu mempertahankan kepemilikan dan kontrol penuh atas data mereka, sementara kami menyediakan lingkungan yang aman dan patuh untuk mendukung operasi mereka dengan percaya diri,” kata Deon Montasser kepada tim Olenka belum lama ini.

Sebagai bagian membangun infrastruktur digital, Equinix juga melakukan berbagai upaya untuk membantu Indonesia membangun tenaga kerja infrastruktur yang kuat dan siap menghadapi masa depan. Berbagai upaya yang diambil, termasuk:

  • Melatih para insinyur Indonesia melalui platform pembelajaran global Equinix, termasuk sertifikasi di bidang operasional, sistem pendingin, dan sistem kelistrikan;
  • Memperluas jalur pengembangan karier awal melalui program magang dan pemagangan, serta mendukung transisi karier bagi para profesional dari industri terkait maupun industri lain melalui program seperti Workforce Development Launchpad dan Career Transition Program;
  • Mendatangkan para ahli global ke Indonesia untuk mentransfer pengetahuan dan mempercepat pembangunan kapabilitas lokal;
  • Menciptakan peluang kerja lokal. Sebagai contoh, JK1 sendiri mendukung ratusan direct and indirect role di bidang konstruksi dan operasional.

Mengenal Lebih Dekat Fasilitas JK1, Data Center Pertama Equinix di Indonesia

Berlokasi di Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, JK1 terdiri dari delapan lantai yang pada tahap awal menyediakan 550 rak server dengan kapasitas total 1.600 rak dan ruang kolokasi seluas 5.300 m² saat rampung sepenuhnya. Fasilitas ini menawarkan layanan konektivitas seperti Equinix Fabric dan Equinix Internet Access serta menyediakan akses ke ekosistem lokal yang terdiri dari lebih dari 50 layanan cloud, jaringan, dan pertukaran internet, termasuk Alibaba Cloud, Amazon Web Services, Microsoft Azure, dan Google Cloud.

“JK1 menyediakan kapasitas high-density, optimasi aliran udara tingkat lanjut, kesiapan liquid cooling, serta konektivitas ke lebih dari 50 penyedia cloud dan jaringan. Hal ini menjadikan JK1 bukan hanya landasan untuk AI berskala besar, melainkan juga untuk arsitektur distributed AI yang kini semakin diadopsi oleh berbagai perusahaan,” jelas Deon.

Baca Juga: Equinix Dinobatkan sebagai Pemimpin dalam IDC MarketScape

Dari JK1 di Jakarta hingga lebih dari 270 pusat data berkinerja tinggi di seluruh dunia, Equinix membantu perusahaan di Indonesia membangun infrastruktur yang aman, patuh regulasi, dan siap bertumbuh. Dengan akses ke ekosistem kaya berisi lebih dari 10.000 perusahaan dan penyedia layanan, organisasi dapat terhubung, berinovasi, dan menskalakan workload AI secara global sambil tetap menjaga governance dan performa.

Tidak hanya itu, menjawab tantangan energi hijau dan keberlanjutan di industri data center yang diketahui mengonsumsi daya cukup tinggi, JK1 telah menggunakan 100% cakupan energi terbarukan, didukung melalui Renewable Energy Certificates (REC). Fasilitas ini juga mengadopsi teknologi pendinginan berteknologi tinggi, termasuk Equinix Cooling Array, yang secara signifikan mengurangi penggunaan energi dan air dalam iklim tropis. Sistem pemantauan energi pun dilakukan secara real-time.

“Pada 2015, Equinix menjadi perusahaan pertama di industri pusat data global yang berkomitmen pada 100% energi bersih dan terbarukan. Kami telah berkomitmen untuk mencapai cakupan energi terbarukan 100% secara global pada 2030, dan terus meningkatkan porsi energi bersih setiap tahun. Kami menetapkan target berbasis sains (Science-Based Targets/SBTs) untuk menurunkan emisi Scope 1 dan 2 sebesar 50% pada 2030 dan mencapai net-zero secara global pada 2040,” tegas Deon.

Untuk mendukung investasi ini, Equinix telah menerbitkan obligasi hijau senilai US$4,9 miliar untuk membiayai proyek-proyek yang mencakup desain bangunan hijau, pengadaan energi terbarukan, efisiensi energi, dan teknologi rendah karbon. Secara global, mereka juga melakukan uji coba berbagai teknologi rendah karbon inovatif seperti hydrogen-ready fuel cells, biofuel seperti HVO untuk generator cadangan, serta sistem pendingin canggih untuk mendorong batas desain pusat data yang berkelanjutan. Equinix menargetkan rata-rata PUE global sebesar 1,33 pada 2030.

“Jika digabungkan, ambisi global dan implementasi lokal ini menyampaikan satu pesan yang jelas: Equinix berkomitmen untuk menghadirkan infrastruktur digital yang mendukung pertumbuhan Indonesia sekaligus meminimalkan dampak lingkungan. JK1 dibangun bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga untuk menetapkan standar baru keberlanjutan bagi industri pusat data di Indonesia,” pungkasnya.