Memasuki tahun 2026, Lazada Indonesia (Lazada) menyoroti tren konsumen yang kian cerdas dalam memilih produk, termasuk yang bernilai tinggi. Hal ini menuntut platform untuk meningkatkan standar autentisitas dan kualitas demi mewujudkan confident commerce yang berbasis kepercayaan.

CEO Lazada Indonesia, Carlos Barrera, menyatakan bahwa industri eCommerce kini telah beranjak dari sekadar penyedia akses pasar menjadi model bisnis yang mengutamakan kualitas. Berdasarkan data laporan e-Conomy SEA dari Google, Temasek, dan Bain & Company, GMV eCommerce Indonesia diproyeksi mencapai sekitar US$140 miliar pada 2030, posisi tertinggi di Asia Tenggara.

Baca Juga: Kisah Anita Ratnasari Raih Ratusan Juta dari Lazada Affiliate, Cek Tipsnya!

"Dengan semakin matangnya perilaku belanja konsumen, fokus eCommerce kini adalah membangun kepercayaan diri pelanggan. Ketika rasa percaya terhadap keaslian produk dan kualitas jangka panjang sudah terbentuk, konsumen secara alami akan berbelanja dalam jumlah lebih besar, bahkan membeli produk yang lebih bernilai. Dengan demikian, eCommerce bertransformasi dari sekadar tempat transaksi, menjadi infrastruktur pertumbuhan bagi konsumen dan brand," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (19/1/2026).

Carlos memaparkan lima tren utama yang akan membentuk lanskap eCommerce Indonesia pada 2026:

1. Trust sebagai Pendorong Utama Belanja

Konsumen Indonesia kini belanja dengan tujuan yang lebih jelas: meningkatkan kualitas hidup. Bagi mereka, "nilai" sebuah produk tidak lagi hanya soal harga murah, tetapi perpaduan antara kualitas, keaslian, dan pengalaman berbelanja. Mereka memilih produk yang lebih tahan lama demi menghindari biaya tambahan di masa depan.

Karena keputusan belanja kini lebih terencana, faktor kepercayaan (trust) berubah dari sekadar pelengkap menjadi penggerak pertumbuhan. Laporan Cube Asia 2025 mencatat bahwa kelas menengah dan konsumen muda sangat memperhatikan aspek keamanan, terbukti dengan 80% konsumen Indonesia yang lebih memilih berbelanja di online mall karena adanya jaminan kualitas.

2. Belanja untuk Melengkapi Fase Kehidupan

Kini, perilaku belanja semakin erat kaitannya dengan fase kehidupan. Konsumen memanfaatkan eCommerce untuk mendukung berbagai transisi penting, seperti membangun keluarga, merenovasi hunian, hingga memulai gaya hidup yang lebih sehat. Tren ini memicu lonjakan permintaan pada kategori produk life-upgrade, seperti elektronik, peralatan rumah tangga, furnitur, otomotif, dan kesehatan. Dalam tren ini, brand lokal maupun global memegang peran kunci dengan menyediakan pilihan produk di berbagai rentang harga.

3. Premiumisasi Berbasis Nilai Produk

Salah satu tren paling menonjol tahun ini adalah minat konsumen terhadap produk yang lebih premium tanpa meninggalkan aspek value-for-money. Konsumen yang kini lebih selektif memilih untuk melakukan "investasi", khususnya di produk yang kualitasnya berdampak langsung pada pengalaman pengguna. Hal ini mendorong permintaan untuk brand maupun produk lebih premium di kategori seperti kecantikan, elektronik, dan kebutuhan rumah tangga.

4.Membership sebagai Wujud Apresiasi Loyalitas

Konsep diskon kini telah berevolusi. Alih-alih hanya mengandalkan promosi sesaat, eCommerce beralih ke program keanggotaan, atau membership, yang menawarkan manfaat berjenjang berdasarkan besaran dan frekuensi belanja. Dalam sistem ini, konsumen premium secara alami naik ke level keanggotaan yang lebih tinggi, sedangkan konsumen yang sensitif terhadap harga terdorong untuk memusatkan keranjang belanja mereka di satu platform demi mendapatkan keuntungan maksimal.

5. Kreator Konten sebagai Ujung Tombak Pertumbuhan

Di tengah tren belanja yang semakin dipengaruhi oleh ulasan autentik, kreator konten, terutama afiliator, kini berperan vital dalam menjembatani brand dengan konsumen. Mereka berfungsi sebagai jaringan luas untuk edukasi dan penjualan sebab mereka mampu menerjemahkan fitur teknis produk menjadi konten relevan dan mudah dipahami. Ragam tipe afiliator kini hadir untuk membangun kedekatan dengan berbagai segmen, mulai dari pembeli aspirasional hingga konsumen yang mengutamakan nilai produk.

“Lazada berkomitmen memberdayakan ekonomi kreator sekaligus memperkuat hubungan antara brand dan konsumen. Kami secara aktif mengedukasi dan membina para kreator melalui investasi tahunan sebesar US$100 juta dalam program Lazada Affiliate. Bagi kami, kreator bukan sekadar pemasar, melainkan mitra strategis untuk pertumbuhan jangka panjang,” ujar Carlos.

Menyongsong Babak Baru eCommerce 2026

Pandangan Lazada untuk tahun 2026 berakar pada satu keyakinan, yaitu peran eCommerce dalam membantu konsumen mengambil keputusan yang lebih cerdas agar belanja mereka menjadi lebih bermakna. Dengan memperluas semakin menumbuhkan kepercayaan, mendukung peningkatan kualitas hidup, menghargai loyalitas, serta memberdayakan kreator sebagai mitra strategis, Lazada optimis bahwa Indonesia siap memasuki babak baru eCommerce. Pada tingkatan baru ini, fokus industri tidak lagi hanya pada volume transaksi, tetapi pada dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.

“Pada akhirnya, kepercayaan dan kualitas adalah kunci masa depan. Di pasar dengan pilihan yang nyaris tanpa batas, platform yang akan terus tumbuh adalah yang mampu membantu konsumen menjalani hidup dengan lebih baik. Itulah yang menjadi komitmen utama Lazada,” tutup Carlos.