Dikatakan Dokter Tirta, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tantangan ekonomi tidak hanya berkaitan dengan besarnya pendapatan, tetapi juga biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Selain faktor tempat tinggal dan kesenjangan ekonomi, Dokter Tirta turut membahas soal keterbatasan akses finansial yang dapat membatasi kesempatan seseorang memperoleh pendidikan berkualitas.
Dijelaskannya, meskipun pendidikan hingga jenjang SMA tersedia secara gratis, kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi belum tentu dapat dijangkau semua orang.
Menurutnya, keterbatasan biaya dapat menjadi penghalang bagi mereka yang ingin melanjutkan studi dan memperoleh peluang kerja lebih baik.
Ia juga mengingatkan persoalan pemenuhan gizi, terutama bagi anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan kondisi ekonomi sulit. Dalam situasi tertentu, anak yang kehilangan orang tua atau menjadi yatim, piatu, maupun yatim piatu juga dapat menghadapi tantangan tambahan dalam memperoleh kebutuhan dasar yang layak.
Berbagai keterbatasan tersebut berpotensi memengaruhi kualitas hidup sekaligus kesempatan seseorang untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.
Kemudian, ia juga tidak menampik bahwa ada orang yang malas berusaha. Namun, menurut Dokter Tirta, hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menggeneralisasi seluruh masyarakat miskin.
Ia menilai, masih banyak orang yang terus berjuang memperbaiki kehidupannya meskipun harus menghadapi keterbatasan ekonomi dan akses terhadap berbagai sumber daya.
“Memang betul ada orang malas, tapi tidak semua orang miskin itu malas. Banyak kok orang miskin yang tetap berjuang, even dalam keterbatasan,” tegasnya.
Terakhir, Dokter Tirta pun mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menghakimi kondisi ekonomi orang lain hanya berdasarkan asumsi atau pengalaman pribadi.
“Tidak ada orang satu pun di dunia ini yang ingin miskin,” pungkas Dokter Tirta.
Baca Juga: Dokter Tirta: Orang Tua Harus Bertanggung Jawab jika Anak Melakukan Bullying