Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Prof Anthony Budiawan menyebut dinasti politik keluarga Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) sudah kelar setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menelanjangi kebobrokan permainan politik keluarga Jokowi lewat pencalonan putranya Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2024 lalu.
Dalam putusannya MK menyebut Gibran tak memiliki ijazah SMA/SLTA yang membuatnya cacat prosedural sejak awal pendaftaran sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto.
Menurut Anthony, Gibran adalah tembok terakhir dinasti Jokowi yang diharapkan dapat melanjutkan kekuasaan, namun putusan MK yang bikin Gibran terancam dimakzulkan bikin tembok itu runtuh tanpa sisa.
"Seluruh bangunan politik Jokowi rapuh, semu, manipulatif dan penuh kebohongan. Politik Jokowi saat ini bergantung pada satu anak tangga, Gibran," kata Anthony kepada wartawan Rabu (14/10/2026).
"Mahkamah Konstitusi menyatakan ijazah SMA Gibran tidak dapat ditunjukkan secara nyata. Artinya, Gibran tidak memiliki ijazah SMA, sehingga pencalonannya bertentangan dengan konstitusi. Dengan Gibran tamat, pintu politik keluarga Jokowi tertutup rapat. Sidang di MK adalah skakmat bagi Jokowi dan keluarga," tambahnya.
Berlandaskan pada putusan MK, Gibran kata Anthony kini hanya tinggal menunggu hari penghakiman, ketika saatnya tiba, Gibran bakal diseret keluar istana, kursi RI II yang direngkuh selama dua tahun belakangan harus direlakan sebab cara culas mendapat kekuasaan itu kini dibongkar habis.
Selaras dengan jatuhnya Gibran dinasti Keluarga Jokowi dipastikan benar-benar berakhir. Tak ada lagi kerabat atau keluarga Jokowi yang menduduki posisi penting di negara ini.
"Tidak ada lagi alasan mempertahankan Gibran di jabatannya. Pemberhentiannya tinggal menunggu waktu. Semakin lama dibiarkan, semakin terbuka bahwa Gibran tidak memenuhi syarat, dan semakin terbuka pula unsur pidananya. Pemberhentian ini hampir pasti terjadi, dan ketika terjadi, manuver politik Jokowi berakhir," kata Anthony.
Satu-satunya harapan Jokowi yang tersisa setelah Gibran diturunkan paksa dari kursi RI II adalah Kaesang Pangarep yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), namun langkah Kaesang di lingkup politik nasional diproyeksikan tak bakal jauh, sebab usianya saat ini masih relatif mudah yang menjadi penghambat jika ia ingin mencalonkan diri pada Pilpres 2029 mendatang, paling mentok Kaesang hanya menjadi anggota DPRD atau DPR RI.
Baca Juga: PSI Bongkar Alasan Gibran Terus Diserang: Ada UU Perampasan Aset yang Bikin Mereka Ketar-ketir?
"Kesempatan pertamanya baru pada 2039, tiga belas tahun dari sekarang. Pada 2039, kalau diberi umur panjang, Jokowi berusia 78 tahun. Mengapa kita mengasumsikan keturunan Jokowi akan maju dalam pilpres? Bukan karena Gibran atau Kaesang hebat dan layak," pungkasnya.