Politikus PDI Perjuangan Guntur Romli, turut memberikan respons keras terkait wacana Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono yang mengusulkan edukasi gizi dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah.
Terkait itu, anak buah Ketua Umum Megawati Soekarnoputri ini menyebut wacana tersebut merupakan pengalihan isu dari maraknya kasus keracunan MBG yang berulang.
Baca Juga: Lebih Lincah Dari Prabowo, MBG Dipastikan Bakal Baik-baik Saja Jika Dieksekusi di Era Jokowi
"Jangan usah ngalihin isu mau memasukkan MBG ke kurikulum sekolah. Urusi dulu keracunan yang terus terjadi," cuitnya dalam akun X pribadinya, seperti dikutip Kamis (29/10/2026).
Lanjutnya, ia menilai wacana kurikulum ini tak lebih dari upaya BGN untuk mencari perhatian. Bahkan, pihaknya juga memberikan contoh kasus keracunan terbaru yang terjadi pada anak-anak sekolah di Dramaga, Bogor.
Dalam catatan Wakil Bupati Bogor, terdapat 417 siswa dari SMPN 1, 2, dan 3 Dramaga keracunan. Selain itu, data polisi mencatat 489 siswa dan guru menjadi korban.
"Padahal enam hari sebelumnya, 103 murid SMPN 2 Cisarua juga tumbang. Dua kali sepekan di kabupaten yang sama. Bagaimana respon BGN? Membantah," ujarnya.
Bahkan, pihaknya juga menolak pernyataan Jubir BGN yang menyebut korbannya hanya 13 orang, yaitu yang masih diobservasi, sedangkan yang dipulangkan tidak dihitung.
"Ini bukan klarifikasi, ini manipulasi angka. Karena media hingga hari Rabu 28 Oktober masih konsisten menyebut angka 400-an, baik 409 maupun 481 korban," tegasnya.
Lebih lanjut, secara nasional catatan Komisi IX DPR RI korban keracunan MBG sudah mencapai 50.059 korban di 36 provinsi dan 245 kabupaten/kota.
"Faktanya 50 ribu anak keracunan, tapi belum terlihat satu pun penyedia MBG diproses hukum. Ini ada apa?" tanyanya.
Menurut dia, anak-anak tidak butuh pelajaran gizi dari lembaga yang tidak bisa membedakan mana racun dan mana makanan.
"Pak Sudaryono, anak-anak tidak butuh pelajaran gizi dari lembaga yang tidak bisa membedakan mana racun dan mana makanan. Yang butuh kurikulum itu justru BGN itu sendiri. Kurikulum SOP, kurikulum kebersihan dapur, kurikulum tanggung jawab," terangnya.
"Urus dulu dapurmu, baru bicara ruang kelas," tukasnya.