Daya beli masyarakat mengalami tekanan yang memicu perubahan perilaku konsumen dalam membelanjakan uang. Managing Partner Inventure, Yuswohady, menilai bahwa masyarakat kini semakin selektif dalam berbelanja suatu produk atau brand. Lantas, bagaimana brand menyikapi perubahan perilaku konsumen tersebut?
Yuswohady mengatakan bahwa di era pelemahan daya beli seperti saat ini, sangat penting bagi brand untuk menekankan pada value produknya. Ia menggunakan istilah value for money, di mana masyarakat akan lebih memilih suatu produk dengan value yang sepadan dengan uang yang harus mereka keluarkan untuk membeli produk tersebut.
Baca Juga: Memotret Perubahan Perilaku Konsumen di Tengah Tren Pelemahan Daya Beli Masyarakat
"Strateginya bagaimana? Brand dengan strategi value for money itu akan menjadi lebih diminati. Artinya, value dari brand itu harus sepadan dengan uang yang dikeluarkan oleh customer," ungkap Yuswohady kepada Olenka beberapa waktu lalu.
Ia memberi contoh, brand Mie Gacoan bisa terus ramai dan diminati di tengah pelemahan daya beli saat ini salah satunya karena brand tersebut tidak terlalu mahal namun menawarkan layanan atau makanan yang lumayan enak. Begitu pula dengan brand kopi asal Indonesia seperti Tuku hingga Kopi Kenangan, mereka juga termasuk brand yang menawarkan value dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan brand asal luar seperti Starbucks.
"Untuk brand-brand lokal dengan rasanya yang tidak beda jauh, tetapi harganya bisa setengah atau sepertiganya itulah yang menjadikan brand ini lebih diminati di era perlemahan daya beli," tambahnya.
Ia melanjutkan, brand juga perlu menyikapi fenomena deal-driven, di mana konsumen akan lebih menyukai promo dan insentif.
"Jadi sekarang brand harus mulai menggerakkan promo ini untuk menggaet konsumen," tegas Yuswohady.
Strategi berikutnya, brand perlu mengikuti tren yang mengarah ke small pack, yakni menghadirkan produk dengan kemasan yang lebih kecil atau fleksibel.
"Itu yang konsumen butuhkan karena daya belinya berkurang, mereka butuh small pack untuk menyiasati daya beli yang tidak memadai," tutupnya.