Transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi salah satu fondasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Selain itu, penguatan industri berbasis teknologi serta investasi strategis juga menjadi prioritas kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Hal tersebut mengemuka dalam Danantara Indonesia International Forum (DTIIF) 2026 di Fairmont Jakarta, Senin (26/10/2026). Chief Operating Oficer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa Danantara menjalankan peta jalan transformasi lima tahun yang mencakup konsolidasi dan restrukturisasi perusahaan, penguatan sumber daya manusia dan budaya korporasi, pengembangan teknologi, hingga penciptaan nilai.
Baca Juga: Danantara, INA, dan Chandra Asri Group Rampungkan Kemitraan Investasi Strategis untuk Proyek CA-EDC
“Melalui konsolidasi, restrukturisasi, penguatan sumber daya manusia, dan pemanfaatan teknologi, kami ingin meningkatkan kinerja perusahaan sehingga mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian Indonesia," kata Dony.
Transformasi tersebut diterapkan antara lain pada sektor bandara melalui peningkatan pengalaman penumpang dan pengembangan pendapatan non-aeronautika. Dony menyebut Danantara juga mengandalkan kemampuan BUMN dalam memperkuat kinerja dan menghasilkan keuntungan yang dapat diinvestasikan kembali.
Dari sisi pengembangan industri, Chief Technology Oficer Danantara Indonesia, Sigit Puji Santosa, mengatakan bahwa inovasi dan teknologi menjadi faktor krusial dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Strategi tersebut membutuhkan penguatan kapabilitas industri domestik agar mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi dan bersaing di pasar global.
“Kita perlu meningkatkan kemampuan industri, mulai dari desain, riset dan pengembangan, hingga produksi massal sehingga Indonesia dapat menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Kami mengembangkan proyek-proyek di sejumlah klaster industri prioritas untuk memperkuat kapasitas nasional dan membangun industri yang lebih kompetitif," kata Sigit.
Dalam sesi Danantara Grand Design & Strategic Portfolio Outlook, Sigit menjelaskan strategi peningkatan industri bertumpu pada tiga prinsip, yaitu meningkatkan kompleksitas industri, memperdalam kapabilitas domestik, serta membangun skala usaha yang mampu bersaing secara global.
Sementara itu, Chief Investment Oficer Danantara Indonesia, Pandu Patria Sjahrir, menekankan pentingnya investasi yang menyeimbangkan imbal hasil komersial dengan dampak strategis. Pandu menilai pengelolaan risiko berlapis dan disiplin keuangan diperlukan agar investasi berjalan berkelanjutan sekaligus mendukung agenda pembangunan ekonomi.
“Setiap investasi perlu mempertimbangkan imbal hasil komersial dan dampak strategisnya dengan tetap menerapkan pengelolaan risiko dan disiplin keuangan. Kami ingin memastikan investasi yangdijalankan dapat menciptakan nilai jangka panjang sekaligus mendukung pengembangan sektor-sektor strategis Indonesia," ujar Pandu.
Pandu memaparkan sejumlah proyek strategis, salah satunya proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (Waste-to-Energy) senilai sekitar US$1,5 miliar. Penerbitan obligasi untuk proyek ini memperoleh permintaan hampir empat kali lipat dari nilai yang ditawarkan (oversubscribed), di mana sekitar 75% dari total permintaan tersebut berasal dari investor Amerika Serikat dan Eropa. Tingginya minat tersebut mencerminkan kepercayaan investor global terhadap proyek dan prospek pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia.
Sejalan dengan pembahasan mengenai investasi strategis, Dean & Chief Executive Oficer Asian Development Bank Institute (ADBI), Bambang P. Brodjonegoro, menyoroti peran teknologi dalam meningkatkan nilai tambah di berbagai sektor, mulai dari manufaktur dan pertanian hingga jasa. Dalam sesi Asias Next Growth Cycle: Technology, Industry & Regional Integration, ia menekankan pentingnya menyeimbangkan peningkatan investasi dalam riset dan pengembangan dengan keandalan pasokan energi selama masa transisi.
Dari sisi kebijakan, Presiden Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), Tetsuya Watanabe, menyebut pemerintah perlu ikut berbagi risiko awal dengan swasta di teknologi frontier karena keberhasilan diukur dari eksekusi, bukan jumlah gagasan.
Dalam hari pertama DTIIF 2026 hadir sejumlah pembicara kunci. Dua peraih Nobel Ekonomi, yakni Peter Howitt (2025 ) dan Thomas J. Sargent (2011). Turut hadir juga Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy. Dari kalangan industri teknologi global, Regional Vice President SpaceX Chris Walker, dan Head of Airbus Defence Southeast Asia Jose Corcia berbicara dalam sesi Intelligence at the Edge bersama Presiden Persatuan Insinyur Indonesia, Ilham Akbar Habibie.