Berbagai tulisan tersebut menggambarkan harapan dan perjuangan para pengunjung, mulai dari keinginan untuk lulus hingga menyelesaikan skripsi.

Bagi Matthew, hal itu menunjukkan bagaimana sebuah coffee shop dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup konsumennya.

“Semoga aku lulus ya, di sini aku ngerjain skripsi. Mereka sangat indah,” ujarnya.

Karena itu, Matthew menilai, ekspansi tidak seharusnya hanya didasarkan pada target jumlah gerai. Membuka ribuan toko tanpa memahami fungsi dan pengalaman yang ingin dibangun dinilai tidak memiliki makna bagi brand maupun konsumen.

“Jadi kadang-kadang kalau kita mikirin ekspansi ke Kaliurang, kenapa? Yang penting harus 2.000 toko, no point,” tegasnya.

Sebaliknya, ia ingin setiap gerai dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari konsumen. Coffee shop diharapkan bukan sekadar tempat membeli produk, tetapi juga menjadi ruang yang memberikan pengalaman dan menciptakan kenangan.

“Tapi interaksi ini, orang-orang yang setiap hari daily basis-nya ke coffee shop, still like home. Dan kita bikin sebuah platform atau tempat experience space, bukan cuma produk, tapi juga ada space. Dan itu kan jadi create memory,” kata Matthew.

Menurut Matthew, keberhasilan sebuah gerai pada akhirnya tidak hanya dapat diukur dari jumlah transaksi atau banyaknya cabang, tetapi juga dari pengalaman yang dirasakan konsumen ketika berada di dalamnya.

“Yang kalian ingin ciptakan adalah untuk orang bisa experience. Dan mungkin punya kenangan di situ. Punya good memories,” pungkas Matthew.

Baca Juga: Fore Coffee Perkenalkan Empat Brand Ambassador Baru, Wakili Cerita Jutaan Pelanggan