Chief Marketing Officer FORE Coffee, Matthew Ardian, menilai, ekspansi bisnis tidak seharusnya hanya berorientasi pada penambahan jumlah gerai. Menurutnya, sebuah brand perlu memahami alasan di balik pembukaan setiap toko, termasuk gaya hidup dan kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut.

Matthew mencontohkan ekspansi ke kota seperti Solo. Menurutnya, sebelum membuka gerai baru, perusahaan perlu memahami karakter konsumen dan pengalaman seperti apa yang ingin diciptakan melalui kehadiran brand di daerah tersebut.

“Pernah kan, kebayang nggak kalau misalnya kita punya sebuah brand yang jumlah tokonya banyak, tapi sepi. Tapi, ternyata tujuannya nggak jelas, main kuantiti aja,” terang Matthew, dalam sebuah video sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram @roryasyari @room.4improvement, Rabu (26/8/2026).

Matthew menekankan bahwa ekspansi seharusnya memiliki tujuan yang jelas, bukan sekadar mengejar angka jumlah toko.

Ketika sebuah brand hadir di kota baru, kata dia, perusahaan perlu memahami bagaimana gerai tersebut dapat menjadi bagian dari keseharian masyarakat setempat.

“Ketika kita ekspansi, kita buka misalnya di Solo, kita perlu tahu, apa jenis lifestyle yang kita ingin membuat,” katanya.

Menurut Matthew, coffee shop saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat membeli minuman. Bagi sebagian konsumen, kedai kopi telah menjadi ruang untuk belajar, bekerja, bertemu, hingga menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga.

Ia membayangkan sebuah gerai yang dapat menjadi tempat yang dekat dengan pelajar, menjadi ruang untuk mengerjakan tugas, bekerja, bertemu, sekaligus tetap nyaman untuk dikunjungi pada akhir pekan.

“Ketika orang di sana, oh kita ingin diingatkan oleh pelajar dekat. Setelah itu mereka duduk, mereka kerja, dan waktu ini weekend mereka masih bisa nongkrong lagi. Mereka ketemu, dan ini dekat meeting hub sama mall,” jelasnya.

Matthew kemudian menceritakan pengalamannya melihat salah satu gerai FORE Coffee di kawasan Kaliurang, Yogyakarta. Gerai tersebut memiliki karakter yang berbeda karena dipenuhi tulisan-tulisan dari pengunjung.

Menurutnya, tulisan-tulisan tersebut justru menjadi bagian menarik dari pengalaman konsumen, terutama karena lokasi gerai yang berada di sekitar kawasan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Ada satu FORE yang kalau aku ke sana itu goosebumps. Karena salah satu FORE di Kaliurang Jogja itu isinya tulisan-tulisan,” tutur Matthew.

Ia bahkan mengaku tidak keberatan dengan banyaknya coretan di gerai tersebut karena isi tulisan yang ditinggalkan konsumen memiliki makna personal.

“Ini satu-satunya FORE yang nggak aku komplain kalau banyak coretan-coretan. Tahu nggak tulisannya apa? The word of affirmation. Karena kan itu dekat kampus, UGM kan,” katanya.

Baca Juga: Kunci Bangun Brand Kopi yang Kuat Menurut CMO FORE Coffee, Apa Saja?

Berbagai tulisan tersebut menggambarkan harapan dan perjuangan para pengunjung, mulai dari keinginan untuk lulus hingga menyelesaikan skripsi.

Bagi Matthew, hal itu menunjukkan bagaimana sebuah coffee shop dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup konsumennya.

“Semoga aku lulus ya, di sini aku ngerjain skripsi. Mereka sangat indah,” ujarnya.

Karena itu, Matthew menilai, ekspansi tidak seharusnya hanya didasarkan pada target jumlah gerai. Membuka ribuan toko tanpa memahami fungsi dan pengalaman yang ingin dibangun dinilai tidak memiliki makna bagi brand maupun konsumen.

“Jadi kadang-kadang kalau kita mikirin ekspansi ke Kaliurang, kenapa? Yang penting harus 2.000 toko, no point,” tegasnya.

Sebaliknya, ia ingin setiap gerai dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari konsumen. Coffee shop diharapkan bukan sekadar tempat membeli produk, tetapi juga menjadi ruang yang memberikan pengalaman dan menciptakan kenangan.

“Tapi interaksi ini, orang-orang yang setiap hari daily basis-nya ke coffee shop, still like home. Dan kita bikin sebuah platform atau tempat experience space, bukan cuma produk, tapi juga ada space. Dan itu kan jadi create memory,” kata Matthew.

Menurut Matthew, keberhasilan sebuah gerai pada akhirnya tidak hanya dapat diukur dari jumlah transaksi atau banyaknya cabang, tetapi juga dari pengalaman yang dirasakan konsumen ketika berada di dalamnya.

“Yang kalian ingin ciptakan adalah untuk orang bisa experience. Dan mungkin punya kenangan di situ. Punya good memories,” pungkas Matthew.

Baca Juga: Fore Coffee Perkenalkan Empat Brand Ambassador Baru, Wakili Cerita Jutaan Pelanggan