Growthmates, menjadi Chief Marketing Officer (CMO) bukanlah pencapaian yang bisa diraih dalam waktu singkat. Menurut Chief Marketing Officer FORE Coffee, Matthew Ardian, perjalanan menuju posisi tersebut membutuhkan proses panjang sekaligus pemahaman yang luas tentang dunia marketing dan bisnis.

Matthew mengatakan, seseorang yang ingin menekuni marketing perlu memahami terlebih dahulu kebutuhan pelanggan dan tujuan yang ingin dibangun oleh sebuah brand.

Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi fondasi sebelum seorang marketer berbicara lebih jauh mengenai strategi pemasaran.

“CMO is not an overnight achievement, ya. So, let's not call it as an achievement. Tapi, memang ada proses panjang di mana kita harus mengeluti marketing. Kita harus tahu dulu sebelum kita ke marketing, kita tahu dulu customer maunya apa. Apa sih brand kita maunya, purpose-nya apa, dan lain-lain,” terang Matthew, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram @ceritasultan.id, Senin (14/9/2026).

Lebih jauh, Matthew menekankan, peran CMO saat ini juga tidak sebatas mengurus branding atau media sosial. Seorang CMO dituntut memiliki pemahaman menyeluruh mengenai bagaimana aktivitas marketing dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan perusahaan.

“Talking about CMO, kita tuh bukan cuma untuk branding, social media, and that's it. We need to be able to mikirin kira-kira company growth-nya tuh seperti apa. We need to know P&L, profit and loss,” katanya.

Menurut Matthew, pemahaman terhadap aspek bisnis menjadi penting karena strategi marketing pada akhirnya harus dapat memberikan dampak terhadap perusahaan. Seorang CMO perlu mengetahui bagaimana investasi yang dikeluarkan untuk pemasaran dapat memberikan hasil, termasuk kapan perusahaan dapat memperoleh keuntungan dari strategi yang dijalankan.

“Secara holistik, itu sebenarnya tugas CMO. Bagaimana kita tahu kapan kita bisa payback, dapat untungnya kapan, dan lain-lain,” ujar Matthew.

Dalam menjalankan strategi marketing di FORE Coffee, Matthew menyebut, pendekatan yang digunakan sangat bergantung pada perspektif perusahaan terhadap pelanggan.

Ia mengatakan, FORE Coffee berupaya membangun strategi yang berorientasi pada kebutuhan dan pengalaman pelanggan.

“One-of-a-kind marketing, I would say ya, FORE ini. Kita ini fokus lebih ke customer-centric, gimana caranya kita bisa tahu membahagiakan customer, make sure that acquisition kita tuh sehat, dan kita juga dari data-centric gitu,” tuturnya.

Menurut Matthew, pemanfaatan data membantu perusahaan memahami kebiasaan pelanggan secara lebih mendalam. Data tidak selalu harus dipahami sebagai sesuatu yang rumit, tetapi dapat berasal dari kebiasaan sederhana yang dilakukan konsumen sehari-hari.

“Data itu sesimpel bukan dianggap yang negatif ya. Tapi sesuatu yang misalnya, kita tahu habitualnya Vincent, pernah dong dapat notifikasi pagi hari, ‘udah ngopi atau belum?’ Karena kita tahu Vincent itu biasanya kalau pagi ngopi, kok hari ini enggak ngopi, sesimpel itu,” jelas Matthew.

Pemahaman terhadap kebiasaan tersebut kemudian dapat digunakan untuk melihat pola konsumen, mulai dari waktu tertentu ketika mereka biasa membeli kopi hingga berbagai kebiasaan yang dapat menjadi dasar dalam menyusun strategi marketing.

Baca Juga: CMO FORE Coffee: Ekspansi Bisnis Bukan Cuma soal Jumlah Toko

Matthew juga menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah campaign tidak cukup hanya diukur dari seberapa banyak orang melihat atau mengetahui campaign tersebut.

Menurutnya, kualitas interaksi dan kemampuan campaign mendorong konsumen untuk melakukan tindakan juga menjadi ukuran penting.

“Kalau kita, sebuah campaign bisa dibilang sukses adalah dari interaksinya. Seberapa besar interaksi yang kita mau, bukan cuma attract dari awal impression doang. Tapi dari kualitas engagement, orang rela ikut dan terkesan ikut di campaign, itu bisa dibilang campaign itu sukses,” katanya.

Selain engagement, kata dia, tingkat keberhasilan campaign juga perlu dilihat dari sisi konversi. Artinya, interaksi yang tercipta diharapkan dapat berlanjut menjadi keputusan konsumen untuk melakukan pembelian.

“Ability, the success level itu juga di-matrix dari conversion, gimana caranya orang itu bisa engage ke kita untuk bisa purchase,” ujar Matthew.

Di sisi lain, ketika berbicara mengenai generasi muda yang ingin meniti karier di bidang marketing, Matthew memberikan apresiasi terhadap kreativitas Gen Z.

Namun, menurutnya, ada satu kemampuan yang perlu terus diasah, yakni kemampuan mendengarkan dan memahami perspektif orang lain.

“Gen Z, you're very creative generation and I do admire you. But, for once mungkin the ability to listen, the ability to understand somebody's perspective is very important,” kata Matthew.

Ia menilai, kemampuan memahami sudut pandang orang lain menjadi semakin penting karena pekerjaan marketing pada dasarnya berkaitan erat dengan manusia. Seorang marketer tidak hanya dituntut kreatif dalam membuat kampanye, tetapi juga harus mampu memahami bagaimana orang lain berpikir dan mengambil keputusan.

“Gen Z itu punya difficulties memahami perspektif beberapa orang,” pungkasnya.

Baca Juga: Kunci Bangun Brand Kopi yang Kuat Menurut CMO FORE Coffee, Apa Saja?