Penulis kenamaan Indonesia yang juga dikenal sebagai akuntan, Tere Liye mengkritik keras Joko Widodo (Jokowi) atas sikapnya yang memilih membiarkan Budi Arie Setiadi berbicara percepatan Pemilu 2029 yang bisa berimbas pada pelengseran rezim Prabowo Subianto.
Sebagai negarawan yang pernah memimpin bangsa ini selama satu dekade sikap Jokowi kata Tere jelas sangat disayangkan, dia seharusnya mengambil sikap tegas untuk menghentikan pembicaraan itu, namun yang terjadi justru sebaliknya, Jokowi membiarkan Budi Arie berbicara isu yang sangat sensitif. Sikap Jokowi dinilai tidak dewasa dalam berpolitik.
Baca Juga: Sindiran Prabowo Buat Budi Arie, Singkat, Padat, Menohok!
"Artinya kepentingan negara di atas kepentingan pribadinya. Kok bisa dia diam saja, cengengesan, pegang kuping, minum teh, pegang pipi selama Budi Arie celoteh. Bahkan jika itu diskusi internal, itu masuk perkara bicara sembunyi-sembunyi membahas sesuatu yang sangat sensitif," kata Tere dilansir Jumat (28/8/2026).
Tere mengatakan, seharusnya publik segera menyadari hal ini, dalam kasus Budi Arie, Jokowi menjadi pihak yang sangat diuntungkan, jika pernyataan Budi Arie benar kejadian di kemudian hari, maka Putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka yang sekarang ini menjadi Wakil Presiden bakal secara otomatis naik tahta menjadi Presiden menggantikan Prabowo.
"Dan adalah fakta, anak Jokowi itu wapres. Jika terjadi percepatan masa jabatan presiden, siapa yang naik? Anaknya. Dia diuntungkan. Kalian paham tidak sih? Jika Jokowi ini negarawan, maka dia yang menghentikan semua celoteh Budi Arie," tegasnya.
Tak berhenti di situ, Tere Liye juga menyentil sebagian netizen dan pengikutnya yang justru lebih sibuk menyoroti video satire buatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang diunggahnya di postingan sebelumnya, alih-alih memahami substansi kritik yang ia sampaikan.
Ia merasa heran mengapa publik justru lebih marah melihat video AI pengandaian dibandingkan sikap diamnya tokoh publik saat isu sensitif dibahas di hadapan mereka.
"Saya sungguh amazing menyaksikan netizen yang ngaku-ngaku baca buku saya, eh dia tidak paham konteks ini, malah lebih marah saat nonton video AI yang saya posting. Kamu kok bisa bebal banget sih? Kamu harusnya marah sama Jokowi. Kesal banget sama negarawan yang kok bisa diam-diam mendiskusikan tentang percepatan masa jabatan presiden," tegasnya.
Menanggapi ancaman sebagian netizen yang mengaku ingin berhenti membaca atau membeli karya-karyanya akibat unggahan tersebut, Tere Liye menegaskan tidak ambil pusing. Bagi dirinya, menyampaikan kritik sosial secara jujur dan berani jauh lebih penting ketimbang mempertahankan popularitas semata di media sosial.
"Mau berhenti baca buku-buku saya? Silakan. Terserah dia mau berhenti beli buku saya atau tidak," pungkasnya.