Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2011–2014, Dahlan Iskan, menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memiliki peluang besar untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap. Menurutnya, kunci utama terletak pada kesadaran untuk melakukan perubahan sistem ekonomi secara fundamental.

“Saya sebetulnya memuji pemerintahan sekarang karena menyadari bahwa dengan gaya dan sistem yang 10 tahun terakhir, itu tidak mungkin membuat Indonesia maju. Itu disadari,” ujar Dahlan dikutip Olenka, Minggu (15/2/2026).

Ia menegaskan, jika pendekatan yang digunakan masih sama seperti satu dekade sebelumnya, Indonesia tidak akan mampu melompat ke level negara maju.

Dahlan menjelaskan, stagnasi pertumbuhan bukan hanya berarti berjalan di tempat, tetapi juga berisiko menurun. Ia mengingatkan tentang ancaman middle income trap, di mana suatu negara terjebak pada level pendapatan menengah tanpa mampu naik kelas.

Tahun lalu, pendapatan per kapita Indonesia tercatat masih di bawah 5.000 dolar AS. Padahal, untuk menuju kategori negara maju, angka tersebut seharusnya sudah mendekati 13.000 dolar AS. 

“Gap-nya terlalu jauh. Seharusnya 13 ribu, masih 5 ribu. Dan pemerintah menyadari ini sekarang. Itu yang saya senang,” tuturnya.

Baca Juga: Optimisme Dahlan Iskan Menengok Kinerja Menkeu Purbaya dan Program MBG

Selama ini, pertumbuhan ekonomi di kisaran 4–5 persen kerap dianggap sebagai capaian yang baik. Namun menurut Dahlan, angka tersebut belum cukup untuk mengejar ketertinggalan. 

“Dengan tumbuh seperti itu selama 10 tahun, hanya bisa membuat pendapatan per kapita di bawah 5 ribu. Padahal seharusnya 13 ribu,” ujarnya.

Karena itu, ia mendukung target pertumbuhan ekonomi di atas 8 persen yang dicanangkan pemerintah. Menurutnya, pertumbuhan pada level tersebut dibutuhkan agar akselerasi pendapatan per kapita dapat meningkat secara signifikan, mendekati standar negara maju yang berada di kisaran 23.000–30.000 dolar AS per tahun.

Jika pertumbuhan tidak dipacu, Indonesia berisiko mengalami fenomena aging before rich, situasi ketika populasi sudah menua sebelum masyarakatnya mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi. Kondisi ini dapat menjadi beban besar bagi perekonomian dalam jangka panjang.

Lebih jauh, Dahlan menekankan bahwa perubahan ekonomi yang dilakukan harus berdampak nyata pada masyarakat luas. Ia berharap pertumbuhan yang diciptakan bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan benar-benar meningkatkan pendapatan masyarakat secara riil, bukan secara fatamorgana.

Kini, menurut Dahlan, tantangannya bukan lagi pada kesadaran akan perlunya perubahan, melainkan pada konsistensi dan efektivitas implementasinya. 

Apakah transformasi tersebut mampu mendorong lompatan ekonomi yang nyata, akan sangat menentukan posisi Indonesia di peta ekonomi global dalam satu hingga dua dekade mendatang.